KOMPAS.com - Heliconia itu terlihat merana, Sabtu (30/8). Tanaman pisang-pisangan ini seharusnya menjadi tanaman hias. Namun, di sudut Taman Toyota, Heliconia tidak berdaya di tengah sengatan panas matahari dan kurangnya sentuhan perawatan.
Taman Toyota terletak di Jalan Perintis Kemerdekaan, Jakarta Utara. Letaknya tertutup jaringan jalan. Barangkali, banyak pengendara yang juga tidak sadar akan keberadaan taman ini. Karena itu, kegersangan taman tidak terlalu menyedot perhatian. Barangkali persoalan akan berbeda apabila taman yang gersang ini mudah terlihat seperti di pembatas di Jalan MH Thamrin.
Di Taman Toyota, banyak rumput kering dan tumbuh tidak merata. Sebagian daun tanaman tampak layu. Marsis, penyapu jalan di kawasan itu, mengatakan, dia ikut membersihkan taman dari sampah dan daun kering jika tidak ada petugas pertamanan, terutama di akhir pekan.
”Sebenarnya, tugas saya itu menyapu jalan di seputar taman ini. Tetapi, kalau taman kotor, saya juga diomelin. Jadi, saya disuruh bersihin taman ini juga kalau ada sampah,” katanya.
Menurut Marsis, taman itu jarang disiram dan lebih banyak mengandalkan air hujan. Jika musim panas seperti sekarang, tanaman sering kering. Selain itu, daun-daun di taman juga banyak yang tumbuh liar karena pemangkasan pohon tidak teratur.
Daun kering juga banyak yang tidak dipangkas. Tanah di taman itu juga sangat padat sehingga menyusahkan penyerapan air. Idealnya, tanah gembur sehingga air mudah terserap.
Di seberang Taman Toyota, ada Taman Herbal Bejo. Taman ini masih terlihat segar karena baru diresmikan pada Mei lalu. Namun, di sisi taman ini juga terlihat tanaman yang kering dan tidak beraturan.
Nasib yang jauh lebih baik dialami Taman Semanggi. Air yang menyemprot dari keran otomatis setidaknya mengembalikan warna rumput dan bunga yang kusam, sekaligus menyegarkan Taman Semanggi yang terletak di jantung kota Jakarta.
Ketiga taman itu merupakan contoh sejumlah taman di Ibu Kota yang dibangun dengan biaya program tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR).
Taman Semanggi direvitalisasi pada 2013 dengan biaya Rp 6 miliar dari PT Toyota Astra Motor. Perawatan dilakukan oleh satuan kerja pemprov.
Pantauan pada Sabtu (30/8) siang, Taman Semanggi terlihat ”kering” meskipun masih cukup tertata. Namun, bunga, pohon, dedaunan, dan rumput kurang memancarkan warna-warni yang menyita pandangan.
Taman Semanggi sebenarnya cukup enak dinikmati. Namun, ketertarikan masyarakat bisa jadi bukan pada taman melainkan di bawah simpang susun untuk berteduh dari panas atau hujan.
Di bawah simpang susun ada penjual makanan/minuman dan pengojek sepeda motor. Ada beberapa plastik bekas kemasan minuman dan makanan yang tidak dibuang ke tempat sampah.
Patroli Satpol PP yang kebetulan melintas naik mobil sempat datang dan meminta pedagang/pengojek pergi. Yang diminta memang pergi, tetapi lekas kembali karena patroli tidak berhenti lama di taman.
Bergantung kerja sama
Saat dikonfirmasi, Kepala Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta Nandar Sunandar mengatakan, perawatan taman-taman yang dibangun oleh perusahaan bergantung pada perjanjian kerja sama dengan perusahaan itu.
”Taman Semanggi, misalnya, dirawat oleh PT Astra selama beberapa tahun. Nanti bisa diperpanjang ulang,” katanya.
Adapun Taman Toyota, menurut Nandar, dibangun PT Toyota pada 2007 dan kini sudah dirawat oleh Suku Dinas Pertamanan Jakarta Utara. Tentang kondisi tanaman yang kering, Nandar mengatakan, hal itu terjadi karena musim kemarau dan panas terik sehingga penguapan tanaman lebih tinggi ketimbang suplai air.
Pihak Pertamanan, menurut Nandar, berupaya memberikan asupan air dengan cara menyiram atau membuat biopori. Namun, ada keterbatasan. Penyiraman, misalnya, dilakukan sekali sehari. Idealnya, penyiraman dilakukan dua kali sehari. Adapun biopori belum dibuat di semua taman. Sumur resapan akan diajukan pembuatannya tahun mendatang.
Hal itu seiring dengan pelimpahan sebagian kewenangan membangun sumur resapan dari Dinas Perindustrian dan Energi ke Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI. Menurut Nandar, pihaknya berencana menggandeng swasta untuk perawatan taman-taman di Jakarta.
Sementara itu, secara terpisah, peneliti lingkungan Ernan Rustiandi mengatakan, taman ialah ruang publik yang amat bermanfaat bagi warga. Kota yang punya banyak taman seharusnya mampu merawat dan menjaga kondisi taman agar selalu cantik, menarik, dan enak dinikmati.
”Jika taman-taman gagal menarik warganya, ruang publik itu sia-sia,” kata Ernan, Dekan Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.
Taman-taman yang kurang terawat di Ibu Kota mungkin karena pemprov kebanyakan tanggung jawab. Pemprov bisa fokus merawat ruang publik besar, seperti kebun binatang, hutan kota, dan taman besar. Yang skala kecil dikelola dengan skema kerja sama dengan swasta atau malah komunitas.
”Di sejumlah negara, sudah lazim pemerintah meminta komunitas memelihara taman mikro,” kata Ernan.
Pemerintah tetap berperan membantu komunitas dalam mengelola. Komunitas yang berhasil mengelola taman bisa diberikan kewenangan lebih besar, misalnya suatu saat mengubah desain dan mengembangkan sistem pengelolaannya.
Taman di Bogor
Berambisi menjadi surga taman, Pemerintah Kota Bogor menargetkan membangun lima taman baru hingga akhir 2014.
Pertama, Taman Palupuh di belakang SMAN 7, Bantarjati, Bogor Utara. Taman ke-28 ini seluas 1,1 hektar. Pembangunan dibiayai melalui Program Pengembangan Kota Hijau (P2KH) Kementerian Pekerjaan Umum. Kedua, taman ke-29 ialah hutan kota ramah burung. Taman seluas 1,5 hektar ini mengoptimalkan fungsi pepohonan di bantaran Jalan Ahmad Yani, Tanah Sareal. Pembangunan dibiayai dari bantuan keuangan Pemprov Jawa Barat.
”Tiga taman dibiayai oleh APBD Kota Bogor,” kata Kepala Bidang Pertamanan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Bogor Dian Herdiawan.
Ketiga, menata dan mempercantik taman di sudut Simpang Pangrango, Babakan, Bogor Tengah. Taman ini ada dua dan mengapit Jalan Pangrango sebelum Simpang Pangrango. Keempat, taman kantong (pocket park). Konsepnya menata, mempercantik, dan mengoptimalkan pepohonan median Jalan Pandu Raya, Bantarjati, Bogor Utara.
Kelima, Taman ”Shuttle” Kijang. Lokasinya di sudut depan Jalan Bina Marga, Baranangsiang, Bogor Timur. Di taman berornamen kijang ini akan ditaruh tempat duduk dan trotoar. Karena itu, lokasi ini jadi titik naik-turun penumpang dan jemputan di seberang Terminal Baranangsiang.
Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto mengatakan, pembangunan taman-taman merupakan satu dari lima program prioritas dalam setahun pemerintahannya sejak dilantik pada 7 April 2014. ”Harus ada sesuatu yang bisa segera dilihat dan dinikmati oleh masyarakat. Selain menata PKL dan mencoba mengatasi kemacetan, ya pembangunan taman,” katanya.
Bima mengatakan, pembangunan taman baru amat perlu. Namun, taman-taman yang sudah ada perlu dirawat.
Di awal-awal pemerintahan, Bima cukup gerah ketika mengetahui beberapa taman kurang terawat. Namun, petugas dinas bahkan komunitas sigap menanggapi kegelisahan itu. Sejumlah taman dibersihkan dan dipercantik memakai anggaran rutin sekaligus memberdayakan komunitas. (Ambrosius Harto/Agnes Rita Sulistyawati)
No comments:
Post a Comment
http://www.youtube.com/user/dimensinet
http://www.youtube.com/user/MrLovemata
https://twitter.com/LoVeMaTa
Mohon untuk di Jempol dan di SUBSCRIBE yah gan. Terima Kasih