Selama 10 tahun Karmana mendiami gubuk yang berdiri di tengah kebun tersebut. Gubuk itu pun bukan miliknya, ia hanya menumpang.
Kondisinya sangat memprihatinkan. Mulai dari kebersihan hingga ukurannya. Gubuk Karmana hanya berukuran 2x3 meter persegi dengan atap dan dinding terbuat dari bekas kain terpal jemuran padi. Lantainya tanah dan penerangan berasal dari lampu minyak.
Setiap hari Karmana tidur di atas jok bekas kendaraan yang dilapisi karung goni. Ruang tidurnya kecil sekali, seukuran badan.
Untuk mengisi perut, Karmana bekerja sebagai pencari kayu bakar dan pemulung rongsokan. Penghasilannya pun tak menentu. Hal yang terpenting baginya bisa makan.
“Bisa makan saja sudah syukur, tempat tinggal seperti ini saya sukuri saja,” tutur Karmana kepada wartawan yang berkunjung ke rumahnya.
Memiliki rumah yang layak tentu menjadi keinginannya. Ia berharap, pemerintah menaruh kepedulian dengan membangun tempat tinggal, meski hanya sekedar untuk berlindung dari panas matahari dan guyuran hujan.
Kondisi Karmana rupanya mendapat perhatian aparat desa setempat. Kepala Desa Mekarjadi, Ahmad Ismail, mengaku sudah berulangkali mengajukan proposal bantuan renovasi rumah layak huni (rutilahu) ke Pemkab Ciamis. Namun realisasinya belum ada karena terbentur syarat calon penerima bantuan.
“Syarat calon penerima ratilahu, harus tinggal di tanah milik sendiri,” kata Ismail.
Berdasarkan data Badan Perencanaan Daerah (Bapeda) Kabupaten Ciamis, persentase penduduk miskin mulai dari 2009-2013 9,62 persen.(Acep Muslim/Sindo TV/ris)
No comments:
Post a Comment
http://www.youtube.com/user/dimensinet
http://www.youtube.com/user/MrLovemata
https://twitter.com/LoVeMaTa
Mohon untuk di Jempol dan di SUBSCRIBE yah gan. Terima Kasih