Pernahkah
anda merinding saat melihat bendera merah putih berkibar-kibar di tiang
bambu sederhana atau di tiang beton nan megah dan perkasa? Pernah?
Sebagian kecil dari kita mungkin akan manggut-manggut, pernah. Tapi saya
yakin sekali bahwa akan lebih banyak yang menggelengkan kepalanya,
tidak pernah sekalipun merasa merinding melihat bendera merah putih
berkibar-kibar.
Pertanyaan
ini juga sempat saya sampaikan kepada peserta talkshow pendidikan di
Unibraw hari Senin, 4 November 2013 kemarin. Dari 82 peserta yang hadir,
tidak ada satupun peserta yang menjawab pernah. Artinya, apakah sang
saka merah putih yang diperjuangkan dengan berdarah-darah itu tidak
berarti apa-apa di hati mereka? Apakah sang saka merah putih kurang
sakral?
Entahlah!
Setelah
mereka menjawab tidak pernah, saya pun kemudian berujar, “Dulu, sebelum
mengabdi di pedalaman Kalimantan, saya juga seperti kalian, tidak
pernah merinding setiap kali melihat bendera merah putih berkibar-kibar.
Sudah biasa, tidak ada istimewanya..” kataku berapi-api, membuat
puluhan pasang mata peserta sempurna tertuju ke arahku, seperti ratusan
peluru yang serentak memberondong ke tubuh seorang pengkhianat negeri.
“Tapi..”
kataku melanjutkan, “Ketika saya di pedalaman Kalimantan dulu, saya
pernah benar-benar merinding ketika melihat bendera berkibar-kibar di
tiang kayu sederhana, di tancapkan di tanah gambut yang becek
dimana-mana, di sepanjang jalan dusun yang saya lewati tepat satu hari
sebelum hari kemerdekaan, 16 Agustus 2012”
Saya
salut, bangga, juga terharu. Ada hangat yang tiba-tiba hadir di kedua
kelopak mata saya, berair dan berkaca-kaca waktu itu. Hebat sekali
mereka.
Di
pedalaman Kalimantan tempat saya mengabdi selama setahun kemarin,
tempat yang hanya berjarak beberapa jam saja dari Malaysia, disana
warganya memiliki dua mata uang sekaligus, rupiah dan ringgit Malaysia.
Mata uang rupiah digunakan untuk melakukan transaksi sesama warga.
Sedangkan ringgit Malaysia mereka gunakan untuk berbelanja keperluan di
negeri Jiran.
Ya,
warga disana lebih memilih berbelanja di Malaysia, terutama para
pemilik warung-warung kelontongan. Maka wajar, saat anda ke warung,
nyaris semua barang yang dijual made in
Malaysia. Mulai dari gula putih, milo, kompor, bahkan rombengan,
pakaian-pakaian bekas layak pakai yang dijual murah, semuanya berasal
dari Malaysia.
“Kompor
dari Malaysia itu bagus, Pak” kata seorang warga dulu membanggakan
produk negara lain, “Selain awet, panasnya juga merata”
“Baju-baju bekas dari Malaysia juga awet” kata yang lain lagi, “Walau bekas, tapi masih bagus dan bisa tahan lama”
Tidak
hanya berbelanja, jika ada yang sakit parah, warga disana juga lebih
memilih berobat ke Malaysia. “Lebih baik berobat di Malaysia pak Syaiha”
kata seorang guru di sekolahku dulu, “Disana, tidak peduli agamanya
apa, tidak peduli dari Indonesia atau Malaysia, tidak peduli bisa bayar
atau nggak, pokoknya saat pasien datang, ada yang langsung menangani,
urusan administrasi akan menyusul nanti”
Aku manggu-manggut saja waktu itu. jika memang begitu adanya, maka benar, lebih baik berobat ke Malaysia saja.
“Nah,
kalau di Indonesia kan nggak, pak Syaiha” kata guru itu lagi, “Yang
ditanya pertama itu, kita bisa bayar atau nggak. Kalau nggak bisa bayar,
maka jangan harap akan dilayani. Buktinya sering kita dengar
kejadian-kejadian miris tentang keluarga miskin yang tidak dilayani
dengan baik di rumah sakit”
Ah, Indonesiaku…
*****
Saya
sempat berpikir, jika keadaan ini dibiarkan begini terus, jangan-jangan
nanti, beberapa puluh tahun lagi, akan banyak warga dusun itu yang
berpindah kewarganegaraan. Lah, bayangkan saja, mereka orang Indonesia
tapi tidak diperhatikan. Mana ada daerah pedalaman dan perbatasan yang
diperhatikan. Buktinya pembangunan disana tertinggal.
Tidak
perlu ke perbatasan, datanglah ke sekolah pegabdian saya dulu, disana
jalanannya hanya setapak, tidak pernah ada mobil lewat, tanah becek
dengan genangan air dimana-mana, tidak ada air bersih, tenaga medis
kurang, puskesmas terbengkalai, rumah-rumah reot dan hampir roboh,
penyakit kulit merebak, dan masih banyak lagi. Mana ada perhatian
pemerintah! Semuanya sibuk korupsi dan mengayakan diri sendiri.
Di
saat bersamaan, negara tetangga justeru memberikan banyak kemudahan dan
fasilitas, maka tidak menutup kemungkinan mereka berpindah
kewarganegaraan, bukan?
Logikanya begitu..
Tapi,
anda tahu, tepat satu hari sebelum 17 Agustus 2012, tanpa diperintah,
serentak semua warga mengibarkan bendera merah putih di depan rumah
mereka. Menancapkan tiang kayu sederhana di tanah gambut yang becek dan
mengikatkan sangsaka disana. Berkibar-kibar, berwibawa sekali ia.
Saya
merinding! Mungkin untuk yang pertama dan yang terakhir kalinya.
Lihatlah, mereka yang terabaikan, yang tidak tersentuh pembangunan, tapi
mereka begitu cintanya kepada Indonesia. Salut!
Cerita penuh Inspirasi dan faktual
Terima Kasih ke :
Penulis : Syaiha
Penyandang Disability, Polio. Ingin berbagi inspirasi, semangat, dan
kebaikan. Jika berkenan silakan follow saya di @syaifulhadioke atau
berkunjung di www.syaiha.com
disadur dari Kompasiana
http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2013/11/10/mungkin-nanti-orang-orang-kalimantan-itu-akan-pindah-kewarganegaraan-ke-malaysia-609306.html
No comments:
Post a Comment
http://www.youtube.com/user/dimensinet
http://www.youtube.com/user/MrLovemata
https://twitter.com/LoVeMaTa
Mohon untuk di Jempol dan di SUBSCRIBE yah gan. Terima Kasih