Jakarta -Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta agar waktu bongkar muat atau dwelling time di pelabuhan bisa lebih cepat menjadi 3-4 hari. Tidak seperti sekarang, misalnya di Pelabuhan Tanjung Priok (Jakarta) yang bisa mencapai 8 hari.
Langkah awal Jokowi adalah dengan membentuk satuan tugas (satgas) pengelolaan pelabuhan yang dipimpin oleh Menko Kemaritiman Indroyono Soesilo.
"Presiden memutuskan segera membentuk satgas untuk menyelesaikandwelling time itu bisa menjadi 3-4 hari," ungkap Menko Maritim Indroyono Soesilo di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (25/2/2015).
Dibandingkan dengan negara lain di Asia Tenggara, kata Indroyono, pelabuhan di Indonesia masih tertinggal dari segi dwelling time. Paling baik adalah di Singapura, yang bisa selesai dalam sehari.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Pelindo II (Persero) RJ Lino menambahkan, kendala utama dwelling time adalah sisi administrasi. Sedangkan untuk sisi fisik, sudah lebih baik sejak beberapa tahun yang lalu.
"Kalau dalam administrasi dokumen itu kan ada pre-custom clearence, custom clearence, dan post custom clearence. Persoalannya, 60% dari waktu yang tadi disebut Pak Menko ada di pre-custom clearence. Tantangan untuk kita adalah bagaimana supaya dokumen itu bisa diserahkan sebelum kawal masuk ke Indonesia," paparnya.
Menurut Lino, saat proses kawal masuk bisa diturunkan menjadi 2,5 hari, maka dampak terhadap bongkar muat secara keseluruhan akan lebih baik.
"Tapi salah satu masalah besar itu karena National Single Window (kepabeanan terintegrasi secara online) itu nggak berfungsi dengan baik. Nggak terkoneksi dengan semua kementerian," kata Lino.
(mkl/hds)
Langkah awal Jokowi adalah dengan membentuk satuan tugas (satgas) pengelolaan pelabuhan yang dipimpin oleh Menko Kemaritiman Indroyono Soesilo.
"Presiden memutuskan segera membentuk satgas untuk menyelesaikandwelling time itu bisa menjadi 3-4 hari," ungkap Menko Maritim Indroyono Soesilo di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (25/2/2015).
Dibandingkan dengan negara lain di Asia Tenggara, kata Indroyono, pelabuhan di Indonesia masih tertinggal dari segi dwelling time. Paling baik adalah di Singapura, yang bisa selesai dalam sehari.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Pelindo II (Persero) RJ Lino menambahkan, kendala utama dwelling time adalah sisi administrasi. Sedangkan untuk sisi fisik, sudah lebih baik sejak beberapa tahun yang lalu.
"Kalau dalam administrasi dokumen itu kan ada pre-custom clearence, custom clearence, dan post custom clearence. Persoalannya, 60% dari waktu yang tadi disebut Pak Menko ada di pre-custom clearence. Tantangan untuk kita adalah bagaimana supaya dokumen itu bisa diserahkan sebelum kawal masuk ke Indonesia," paparnya.
Menurut Lino, saat proses kawal masuk bisa diturunkan menjadi 2,5 hari, maka dampak terhadap bongkar muat secara keseluruhan akan lebih baik.
"Tapi salah satu masalah besar itu karena National Single Window (kepabeanan terintegrasi secara online) itu nggak berfungsi dengan baik. Nggak terkoneksi dengan semua kementerian," kata Lino.
No comments:
Post a Comment
http://www.youtube.com/user/dimensinet
http://www.youtube.com/user/MrLovemata
https://twitter.com/LoVeMaTa
Mohon untuk di Jempol dan di SUBSCRIBE yah gan. Terima Kasih