25 February 2015

Bripda Eka, polwan yang nyambi jadi tukang tambal ban

Bripda Eka, polwan yang nyambi jadi tukang tambal ban
Bripda Eka Yuli Andini. ©2015 Merdeka.com/parwito
Merdeka.com - Kondisi ekonomi orang tua yang pas-pasan ternyata tidak membuat sosok gadis berparas manis ini putus asa. Meski ayahnya hanya seorang buruh tukang tambal ban, malah membuat Bripda Eka Yuli Andini (19) bersemangat dalam menempuh masa depan sebagai polwan.

Gadis lulusan SMK Negeri 2 Salatiga jurusan Teknik Komputer dan Jaringan ini, dengan mulus lolos tanpa uang sogokan menempuh pendidikan kepolisian Pusdik Binmas, Banyu Biru, Ambarawa, Jawa Tengah. Selain itu, selama menempuh masa pendidikan sebagai Sekolah Calon Bintara (Secaba), berhasil mengukir prestasi rangking tujuh dari 7.000 peserta lainnya saat pendidikan kepolisian se-Indonesia.

Meski, sudah dua bulan menjadi polwan, Bripda Eka, panggilan sehari-harinya tidak pernah lupa disela-sela kesibukannya sebagai abdi negara tetap membantu profesi ayahnya sebagai buruh tukang tambal ban di Jalan Veteran, Pasar Sapi RT 2 RW 6, Kota Salatiga, Jawa Tengah dan bengkel.

Di rumah kontrakan sekaligus bengkel yang hanya berukuran 6 X 6 meter ini Bripda Eka jika lepas piket di Mapolresta Salatiga, Bripda Eka membantu kesibukan orang tuanya melayani langganan tambal ban ayahnya. Kesibukannya ini dilakukannya sejak duduk di bangku sekolah mulai SMP hingga SMK.

Anak pertama dari dua bersaudara pasangan Sabirin (49) dan Darwanti (40) ini awalnya sama sekali tidak terbayang dibenaknya untuk menjadi seorang Polwan. Padahal awalnya, Bripda Eka ingin bekerja di sebuah stasiun televisi besar berskala nasional. Makanya, dirinya mengambil jurusan Teknik Komputer dan Jaringan agar mahir dalam bidang editing gambar dan animasi di televisi atau bidang broadcasting.

"Orangtua saya nggak pernah mengarahkan. Saya awalnya pingin kerja di broadcast, bagian editing dan ahli animasi karena saya ingin bekerja di stasiun tv terkenal. Pernah membuat web dengan teman-teman. Suka saja ngedit video, ngedit foto pokoknya yang berbau desain grafis lah," ungkapnya saat ditemui merdeka.com Selasa (25/2) di RSUD Salatiga di Bangsal Kelas 3 Flamboyan, Kota Salatiga, Jawa Tengah menunggui ayahnya Sabirin yang sedang sakit.

Namun, menjelang kelulusan, Bripda Eka mendapat dorongan dari Mara Tilofashanti salah satu guru multimedia komputer di SMK Negeri 2 Salatiga yang saat itu ada sosialisasi penerimaan polwan dari Polresta Salatiga. Bripda Eka kemudian mencoba mengadu nasib dan keberuntungan mengikuti seleksi penerimaan Secaba Polri di Kota Semarang, Jawa Tengah.

"Sebelum jadi polwan. Awalnya aku sempat daftar salah satu perusahaan perkabelan automotif di PT Autocom di Subang, Jawa Barat. Saat itu tes tertulis dulu. Terus dapat panggilan ke Semarang untuk seleksi setelah tes kesehatan di Polri. Kemudian bebarengan, saya milih seleksi di Polri saja kemudian mengikuti tes kesehatan dan membatalkan untuk tes di PT Autocom. Ingin cepet kerja biar bisa bantu ayah dan tidak menambal ban terus," tutur gadis berkelahiran 30 Juli 1996 ini.

Bripda Eka kepada merdeka.com sempat mengaku tidak percaya diri karena gadis berparas imut ini hanya memiliki tinggi badan 156 dengan berat hanya 48 saja. Namun, karena mendapat dorongan dari teman-teman sekolah, orangtua dan gurunya, akhirnya bersama 19 teman satu sekolahnya Bripda Eka mengikuti proses seleksi Secaba Polri.

"Ada teman-teman daftar sekitar sekelas lima sama saya. Kalau satu sekolah SMK Negeri 2 Salatiga ada sekitar 20 teman sama saya. Terus daftar, saya khan tinggi badan pas-pasan banget. Kok kayak tinggi badan ngepres. Di bujuk Bu Mara, udah gak papa ikut saja, tahun kemarin ada 7.000 polwan diterima. Kapan lagi ada kuota seperti itu. Eh, ternyata sekarang sudah jadi Polwan. Alhamdulillah saya jadi rangking tujuh selama pendidikan 1,5 bulan di Banyu Biru, Ambarawa," ungkapnya.

Meski telah berhasil menjadi anggota polwan, sosok Bripda Eka tetap menunjukkan kesederhanaannya. Bagaimana tidak, saat merdeka.com menemuinya baju, celana dan sepatunya yang dikenakan baju tak bermerek. Kesantunan dan kepatuhan kepada kedua orangtuanya pun tetap dijaga.

Terbukti, saat menunggui ayahnya Sabirin yang sedang sakit paru-paru, dengan setia bersama ibu dan adik semata wayangnya Arjuna Dwi Bagaskara (16) yang saat ini juga duduk di bangku sekolah SMK Negeri 2 Salatiga seperti dirinya. Meski dirinya kini telah sibuk bertugas sementara di Unit Shabara Polresta Salatiga, Jawa Tengah.
Masuk tanpa sogokan, ayah minta Bripda Eka jadi polisi jujur
Bripda Eka Yuli Andini. ©2015 Merdeka.com/parwito
Merdeka.com - Bangga! Itulah satu kata yang terucap dari bibir Sabirin (49) seorang ayah dari Bripda Eka Yuli Andini (19), anggota polwan Polresta Salatiga, Jawa Tengah yang baru dua bulan menjalankan kewajibannya sebagai abdi negara yang sementara ditempatkan oleh Kapolresta Salatiga AKBP Ribut Hari Wibowo di Unit Shabara ini.

Bagaimana tidak, selama menjalani proses seleksi Secaba di Pusdik Bimas Banyu Biru, Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah anaknya tidak mengeluarkan biaya alias sogokan seperti yang dikabarkan dan menjadi rahasia umum masyarakat.

"Saya bangga, anak saya bisa masuk dan menjadi anggota polwan tanpa sogokan. Sebab, dari kabar yang tersebar kalau ingin jadi polisi harus bayar sogokan atau uang pelicin sebesar Rp 16 juta. Ternyata terbukti, anak saya tidak membayar atau menyogok!" ungkap Sabirin saat ditemui merdeka.com Rabu (25/2) yang dalam posisi rebahan sambil dalam kondisi diinfus tangannya di Bangsal Kelas 3 Flamboyan, Lantai 4 RSUD Kota Salatiga, Jawa Tengah.

Hanya saja, jerih payahnya menabung dari bekerja selama dua tahun lebih sebagai buruh tukang tambal ban yang bengkelnya dicarikan tempat oleh tetangganya Haji Suhardi harus habis.

"Setiap hari, hasil tambal ban bengkel saya yang dicarikan tempatnya oleh tetangga mertua saya (nenek Eka) sejak Eka kelas 3 SD harus saya relakan habis demi membiayai Eka supaya bisa lolos jadi polisi. Buat sewa mobil, makan dan transport ke Semarang untuk seleksi Secaba Polwan di sana. Tabungan sebesar Rp 2,5 juta dari hasil bengkel saya relakan habis demi untuk mengantar anak saya ke Semarang," ungkapnya.

Ayah Bripda Eka, Sabirin bersama ibunya Darwanti rela selama kurun waktu 1,5 bulan proses seleksi Secaba Polwan mondar-mandir dari Salatiga menuju ke Kabupaten Semarang dan Kota Semarang untuk memberikan semangat dan support kepada anak pertamanya menjadi polwan.

Bahkan, Sabirin mengaku sempat tidur di dalam mobil hingga digigit nyamuk saat menunggui anaknya seleksi calon polwan di Kawasan PRPP Kota Semarang hingga muncul bentol-bentol merah di sekujur tubuh Sabirin dan istrinya.

"Sampai kita digigiti nyamuk pas tidur karena menunggu anak saya seleksi calon anggota polwan. Soalnya kawasan PRPP Kota Semarang itu khan dekat dengan laut jadi banyak nyamuknya," papar Sabirin yang sebelum menjadi tukang tambal ban sempat menjadi sopir tetangganya Haji Suhardi ini.

Besarnya pengorbanan dan perjuangan Sabirin bersama istri dan anaknya, membuat dirinya berharap agar Bripda Eka menjadi polisi sekaligus anak yang bisa berbakti bagi orang tua, keluarga, bangsa dan negara. Terutama bekerja sebagai abdi negara polwan yang jujur layaknya seperti polisi jujur yang legendaris Hoegeng.

"Harapan saya kepada anak saya, Eka supaya jadi polisi yang baik, jujur kayak pak Hoegeng, adil berguna bagi masyarakat, nusa dan bangsa dan berbakti kepada orang tuanya seperti saya," pungkas Sabirin kepada merdeka.com.

Merdeka.com - Polwan yang nyambi jadi tukang tambal ban, Bripda Eka Yuli Andini (19) merasa bangga dan cinta dengan orang tuanya. Meski ayahnya Sabirin (49) hanya bekerja sebagai tukang tambal ban di bengkel sekaligus rumah kontrakannya yang hanya berukuran 6 meter X 6 meter itu, Bripka Eka tak malu ikut membantu menambal ban.

Selain menjadi tukang tambal ban, Sabirin, ayah Bripda Eka juga menjadi seorang marbot yaitu tukang bersih-bersih Masjid Agung Darul Amal di Jalan Pancasila, Salatiga.

Jika di sela-sela waktu senggang saat bekerja sebagai tukang tambal ban, Sabirin membersihkan beberapa sudut bagian masjid di pusat kota Salatiga yang jaraknya sekitar 500 meter dari rumah kontrakan sekaligus bengkel tambal bannya itu.

"Ayah saya selain kerja tukang tambal ban juga tukang bersih-bersih masjid sejak tiga atau empat tahun yang lalu," ungkap Bripda Eka Yuli Andini saat ditemui merdeka.com Rabu (25/2) di rumah kontrakan sekaligus bengkel tambal ban di Jalan Veteran, Pasar Sapi RT 2 RW 6, Kota Salatiga, Jawa Tengah.
Nyambi jadi tukang tambal ban, Bripda Eka ingin hajikan orang tua
Bripda Eka Yuli Andini. ©2015 Merdeka.com/parwito"Bagi saya kedua orang tua saya adalah ibarat malaikat yang diturunkan Tuhan untuk menjaga saya. Dan untuk membahagiakan mereka saya harus bekerja keras dan bisa buktikan bisa lebih baik dan lebih maju dari mereka. Kalau orang tua saya profesinya jadi tukang tambal ban, jangan sampailah anaknya juga jadi tukang tambal ban. Akhirnya, dengan ketekunan dan kegigihan harus bisa saya buktikan?" ujarnya.

Bripda Eka pun berkeinginan keras untuk menaikkan haji kedua orangtuanya jika profesinya sebagai polwan di Mapolresta Salatiga berjalan beberapa tahun ke depan nanti.

"Saya pingin banget naikin haji orang tua saya. Hanya itulah yang bisa saya lakukan untuk membahagiakan kedua orang tua saya. Memang, sulit membalas budi jasa orang tua yang telah membesarkan dan menjadikan saya jadi orang (polwan) begini. Balas budi dalam bentuk menaikkan hajipun saya rasa belum cukup," ungkap gadis manis semasa sekolah di SMK Negeri 2 Salatiga ini hobi pramuka ini.

Selain itu, Bripda Eka ingin membelikan rumah kedua orangtuanya karena dengan rumah kontrakan yang setiap tahunya harus membayar dua juta rasa-rasanya sangat memberatkan beban orang tuanya. Apalagi, rumah kontrakan sekaligus bengkel tempat dia dan ayahnya Sabirin menambal ban hanya berukuran kecil.

Petak seluas 6 meter X 6 meter itu hanya bisa dijadikan ruang kerja bengkel ayahnya, kamar tidur dari bambu seadanya dan hanya kamar mandi berukuran sangat minimalis. Rasa-rasanya sangat sempit jika harus ditempati ayah, ibu, adiknya Arjuna Dwi Bagaskara (16) yang saat ini juga duduk di bangku sekolah SMK Negeri 2 Salatiga ini.

"Doakan ya mas, semoga cita-cita saya untuk kedua orang tua beserta adik saya yang masih butuh biaya sekolah juga dan harus saya bantu bisa tercapai dan terkabul. Doakan yah? Amien, amien Ya Robbal Alamin," pinta Bripda Eka.

No comments:

Post a Comment

http://www.youtube.com/user/dimensinet
http://www.youtube.com/user/MrLovemata
https://twitter.com/LoVeMaTa
Mohon untuk di Jempol dan di SUBSCRIBE yah gan. Terima Kasih