JAKARTA, KOMPAS.com — Hari mulai beranjak siang. Beberapa warga yang kebanyakan perempuan keluar dari pintu-pintu yang di atasnya terdapat nomor blok dan nomor pintu. Sebagian ada yang mencari makanan di pedagang gerobak yang tak jauh dari pintu rumah mereka. Sisanya asyik mengobrol dengan tetangga sambil menyusui anak mereka yang masih kecil.
Pemandangan tersebut dapat ditemukan di Kompleks Rumah Susun (Rusun) Cinta Kasih Buddha Tzu Chi, Cengkareng, Jakarta Barat. Rusun yang berdiri sejak tahun 2003 itu kebanyakan diisi oleh warga binaan dari bantaran Kali Angke, Kapuk, dan daerah-daerah di sekitarnya.
Salah satu warga penghuni rusun di lantai dasar adalah Ainur Samkah (35). Ainur atau yang biasa dipanggil Nur mengaku sudah sejak awal 2003 menghuni rusun itu bersama keluarganya sampai sekarang. Karena menerapkan sistem sewa, Nur diwajibkan untuk membayar sejumlah uang setiap bulannya.
"Sebulan di sini Rp 90.000, sudah termasuk keamanan, kebersihan. Kalau air dan listrik (bayar) sendiri-sendiri," kata Nur kepada Kompas.com, Kamis (29/1/2015).
Biaya sewa tersebut terhitung murah bagi Nur. Terlebih lagi, pengelola rusun dari Yayasan Buddha Tzu Chi juga menyediakan fasilitas pendidikan di dalam kompleks rusun sehingga anak-anak di rusun tersebut dapat bersekolah di sana dari jenjang sekolah dasar (SD) sampai sekolah menengah atas (SMA) dengan harga yang murah.
"Kalau dulu tahun 2003 kita cuma bayar Rp 10.000 untuk tahun pertama. Dapat seragam sama buku gratis. Kalau sekarang, bayarnya saya lupa, kayaknya enggak sampai Rp 100.000 juga," kata Nur.
Bisa berjualan
Dengan tinggal di rusun, Nur diperbolehkan oleh pengelola untuk membuka usaha kecil-kecilan di lantai dasar dekat tempat tinggalnya. Nur yang menjual soto mi seharga Rp 6.000 per mangkuk dan es campur seharga Rp 2.000 per gelas ini juga tidak dimintai biaya tambahan oleh pengelola.
Di rusun tersebut, juga terdapat sebuah kawasan yang dihuni banyak pedagang gerobak yang menjual berbagai macam makanan. Mereka adalah warga rusun sendiri.
Warga lainnya, Dian Puspitasari (27), mengaku senang tinggal di Rusun Cinta Kasih, terutama karena kebersihannya. Bahkan, Dian dan warga lainnya tidak segan beraktivitas di lantai selasar rusun sambil menikmati es campur buatan Nur.
Alas kaki
Warga rusun sudah terbiasa melepas alas kakinya sebelum menginjak lantai selasar. Bagi yang unit rusunnya di lantai atas, alas kaki mereka dibawa. Tidak terkecuali untuk anak kecil, mereka juga sudah paham dengan kebiasaan tersebut.
"Kita juga berapa lama sekali ada kerja bakti bersih-bersih. Tapi, kalau hari-hari biasa, ya kita-kita saja yang bersihin lantai kita sendiri," tutur Dian.
Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan rusun milik pemerintah daerah yang berada di sekitarnya. Salah satu contoh Rusun Daan Mogot. Rusun yang memiliki delapan menara itu belum jelas soal pembayaran sewanya dari kebijakan awal yang memberikan gratis selama enam bulan.
Bahkan, lokasi rusun sendiri sulit dijangkau karena akses dari jalan besar sampai ke dalam kompleks rusun jauhnya sekitar 1 kilometer, dengan kondisi jalan tanah dan berbatu. Beberapa warga yang sudah tinggal di sana sempat mengeluhkan jauhnya jarak jika mau mengantar anak sekolah.
No comments:
Post a Comment
http://www.youtube.com/user/dimensinet
http://www.youtube.com/user/MrLovemata
https://twitter.com/LoVeMaTa
Mohon untuk di Jempol dan di SUBSCRIBE yah gan. Terima Kasih