02 July 2014

Nusron Wahid: Fahri Intelektual Muda yang Sombong, Jangan Ditiru

Jakarta - Kicauan Fahri Hamzah yang menyebut Jokowi 'sinting' menuai respons keras dari banyak pihak. Ketua Umum GP Ansor menuturkan Wasekjen PKS itu mencerminkan gaya intelektual muda yang sombong.

"Sikap seperti Fahri itu bentuk kesombongan intelektual muda, dan jangan ditiru," kata Nusron Wahid dalam siaran pers kepada detikcom, Selasa (1/7/2014).

Sebenarnya Fahri Hamzah dianggap sahabat oleh Nusron. Namun karena pandangan Fahri terlalu kasar dan menurut Nusron 'sontoloyo' dia pun mengingatkan Fahri untuk memperbanyak mengaji.

"Janganlah di bulan puasa menilai gagasan orang dengan kebencian. Lebih baik banyak ngaji di bulan puasa," saran Nusron.

Kicauan 'Jokowi sinting' itu dilontarkan Fahri melalui akun twitternya @fahrihamzah pada 27 Juni 2014 sekitar pukul 10.40. "Jokowi janji 1 Muharam hari santri. Demi dia terpilih, 360 hari akan dijanjikan ke semua orang. Sinting!" kicau Fahri.

Kicauan Fahri itu menanggapi janji Jokowi atas tuntutan santri di Pondok Pesantren Babussalam, Banjarejo, Malang, Jawa Timur, agar menjadikan 1 Muharam sebagai hari santri nasional. Timses Jokowi-JK melaporkan Fahri ke Bawaslu, dan kini pengawas Pemilu bersiap memanggil Fahri dalam waktu dekat.

Jakarta - Wasekjen PKS Fahri Hamzah yang berkicau Jokowi 'sinting' lantaran berjanji menjadikah 1 Muharam sebagai hari santri nasional menuai protes banyak pihak. Ketua Umum GP Ansor Nusron Wahid menilai Fahri tak paham sejarah Islam.

"Fahri itu orang tidak tahu dan memahami sejarah Islam. 1 Muharam itu hari sakral, sebab hari itu merupakan momentum hijrah. Hijrah itu jangan hanya dimaknai simbolik dari Makkah menuju Madinah. Tapi juga revolusi mental bagian dari substansi hijrah. Hijrah dari pemerintahan yang korup menuju pemerintahan yang bersih," kata Nusron dalam siaran pers, Selasa (1/7/2014).

Usulan para kiai dan santri yang diamini Jokowi, yakni akan menjadikan 1 Muharam sebagai hari santri, menurut Nusron merupakan momentum hijrah menuju akhlakul karimah bangsa Indonesia yang dipelopori para santri. Sebagaimana dulu para santri Hasyim Asy'ari memelopori perang melawan sekutu pada 10 November 1945, kemudian dijadikan sebagai Hari Pahlawan.

"Kalau gagasan itu dianggap sinting, yang menganggap sinting berarti bahlul dan sontoloyo, dan tidak bisa memaknai hijrah dalam konteks santri di Indonesia," kata Nusron.

Nusron menuturkan, lebih baik Jokowi menebar kebaikan-kebaikan yang sifatnya inspiratif seperti hari santri, hari inovasi nasional, hari buruh, dibanding menebar janji kekuasaan dan kursi menteri kepada semua pendukungnya.

"Lagian dengan memberikan hari itu apakah mengganggu produktivitas bangsa Indonesia. Saya kira lebih banyak manfaatnya dari pada madharatnya," katanya.

"Janganlah di bulan puasa menilai gagasan orang dengan kebencian. Lebih baik banyak ngaji di bulan puasa," saran Nusron

Tidak mengakui hari santri, bagi Nusron, berarti sama saja tidak mengakui peranan santri dalam menciptakan character and national building bangsa Indonesia, yang nasionalis, religius dan akhlaqul karimah. "Itu semua adalah peranan santri dan kiai," pungkasnya.

Tim kampanye Jokowi-JK melaporkan Fahri ke Bawaslu lantaran dianggap merendahkan capres Joko Widodo. Mereka melaporkan kicauan Fahri di twitter yang menyebut Jokowi 'sinting'.

Kicauan itu dilontarkan Fahri melalui akun twitternya @fahrihamzah pada 27 Juni 2014 sekitar pukul 10.40. "Jokowi janji 1 Muharam hari santri. Demi dia terpilih, 360 hari akan dijanjikan ke semua orang. Sinting!" kicau Fahri.

Kicauan Fahri itu menanggapi janji Jokowi atas tuntutan santri di Pondok Pesantren Babussalam, Banjarejo, Malang, Jawa Timur, agar menjadikan 1 Muharam sebagai hari santri nasional. Kini Bawaslu bersiap memanggil Fahri dalam waktu dekat.

No comments:

Post a Comment

http://www.youtube.com/user/dimensinet
http://www.youtube.com/user/MrLovemata
https://twitter.com/LoVeMaTa
Mohon untuk di Jempol dan di SUBSCRIBE yah gan. Terima Kasih