Demikan pandangan sejumlah tokoh dan pakar, diantaranya Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh, pengamat kebijakan publik dari UI Andrinof Chaniago, pakar politik LIPI Siti Zuhro, serta peneliti dari Formappi Lusius Karus, di Jakarta Jumat (8/11) dab Sabtu (9/11).
Menurut Anies Baswedan, tantangan dan perjuangan terbesar bangsa Indonesia saat ini adalah memberantas korupsi serta mewujudkan penyelenggara negara dan pemerintah yang bersih, yang melayani kepentingan masyarakat.”Korupsi itu bukan barang baru, tapi menangkap korupsi itu barang baru. Heroisme masa kini justru muncul lewat pemberantasan korupsi,” ujarnya.
Menurt Anies, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad dan seluruh jajarannya telah membuktikan keberanianya menangkap koruptor sekelas menteri. Namum, dia mengingatkan diluar KPK, masih banyak institusi dan individu dengan sifat kepahlawanan untuk melawan korupsi.
Dia menambahkan, korupsi telah melahirkan penyelenggara negara yang tidak mengabdi pada kepentingan masyarakat. Untuk itulah, diperlukan pula sosok yang berani melawan arus guna menata kembali birokrasi di Tanah Air.
“Demikian pula Ahok (wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama) adalah sosok otentik yang berani melawan, terobosan membenahi birokrasi di Pemprov DKI Jakarta. Dengan terobosan yang dilakukannya, membuktikan dia memihak kepentingan rakyat. Itulah jiwa kepahlawanan,” tandasnya.
Sementara itu, Mendikbud M Nuh menulai, setiap zaman memiliki pahlawannya sendiri-sendiri. Di zaman sekarang adalah zaman dimana hilangnya nilai-nilai moral, integritas dan etika. Oleh karen itu, sosok pahlawan yang dibutuhkan adalah mereka yang berpegang teguh kepada ketiga nilai tersebut.
Sedangkan, Andrinof Chaniago mengatakan, saat ini sangat sulit mencari sosok penyelenggara negara yang bersih dan mau kerja tanpa pamrih kepada rakyat. Penyakit korupsi dan ambisi kekuasaan menjauhkan para penyelenggara dari teladan sifat dan perilaku kepahlawanan.
Namun, dimata Andrinof, bangsa Indonesia tidak perlu pesimistis dengan perilaku penyelenggara negara saat ini. Dia mencontohkan, Abraham Samad dan Ahok bisa menjadi sosok pahlawan masa kini, karena berjuang melawan musuh bersama bangsa, yakni korupsi.
Menurut Andrinif, korupsi dan ambisi kekuasaan mendominasi pola pikir dan pola tindak penyelenggara negara saat ini. Ditingkat elite penyelenggara negara yang menguasai sebagain besar sumber daya, banyak yang hanya mengejar kepentingan sendiri.”Rasa kebersamaan makin pudar. Mereka yang berjuang untuk memperbaiki keadaan ditempatkan sebagai kaum pinggiran,” katanya.
Model Kepemimpinan
Secara terpisah Lusius Karus juga sepakat Abraham Samad dan Basuki adalah dua dari sekian warga Indonesia yang mampu menunjukkan jiwa kepahlawanan, dalam konteks masa ini. Sebab, sikap dan perilaku keduanya yang konsisten memberantas korupsi dan mewujudkan penyelenggara negara yang bersih, pantas untuk ditiru. Apalagi, bangsa ini sudah terlalu lama berjalan tanpa seorang figur pemimpin yang pantas ditiru.
Secara terpisah Lusius Karus juga sepakat Abraham Samad dan Basuki adalah dua dari sekian warga Indonesia yang mampu menunjukkan jiwa kepahlawanan, dalam konteks masa ini. Sebab, sikap dan perilaku keduanya yang konsisten memberantas korupsi dan mewujudkan penyelenggara negara yang bersih, pantas untuk ditiru. Apalagi, bangsa ini sudah terlalu lama berjalan tanpa seorang figur pemimpin yang pantas ditiru.
“Dalam konteks keduanya menjadi model dalam bersikap terhadap korupsi, kita bisa menganggap keduanya sebagai pahlawan,” ujarnya.
Dengan demikian, sekaligus memberi pesan kepada Abraham dan Basuki, agar konsisten dengan sikap mereka selama menjadi pemimpin.”Kita menuntut keduanya dengan tanggung jawab moral untuk tidak mudah tergoda. Kita membebani mereka dengan misi agung melawan korupsi. Pesan lain ditunjukan kepada semua penyelenggara negara agar meniru apa yang dilakukan Abraham dan Basuki, dengan tidak takut melawan arus untuk bersikap jujur dan benar,” ungkapnya.
Lusius menambahkan, Abraham dan Basuki adalah model kepemimpinan ideal saat ini, yang dengan mudah dilihat oleh publik. Dengan demikian, diharapkan akan menularkan semangat kepada seluruh rakyat, terutama dalam pemberantasan korupsi.
“Sebab, tanggung jawab memberantas korupsi menjadi tugas bersama masyarakat. bukan hanya tanggung jawab Ahok dan Samad,” jelasnya.
Sementara itu, Siti Zuhro mengemukakan, seseorang ditokohkan karena sikap dan perilakunya diakui publik. Pahlawan adalah tokoh yang rela berkorban untuk kepentingan dan kemajuan negara. Disebut pahlawan karena keberaniannya membuat terobosan penting, berani membuat suatu kebjakan, meskipun tidak populer dan mengancam dirinya. Selain itu, berani menghadapi tantangan, serta tegas dan terukur saat mengambil keputusan.
“Di tengah maraknya skandal korupsi yang melanda Indonesia, memudarnya nilai-nilai luhur masyarakat, dan disorientasi yang berkepanjangan yang memunculkan oportunisme akut, diperlukan pahlawan atau hero yang mampu menjadi role model bagi negeri ini. Munculnya beberapa tokoh pembaruan, baik di eksekutif, yudikatif maupun legislatif bisa dijadikan “Pahlawan” dalam konteks mampu memberikan contoh positif,” ujarnya. [Suara Pembaruan]
No comments:
Post a Comment
http://www.youtube.com/user/dimensinet
http://www.youtube.com/user/MrLovemata
https://twitter.com/LoVeMaTa
Mohon untuk di Jempol dan di SUBSCRIBE yah gan. Terima Kasih