Dalam deklarasi penolakan itu, warga dan Ratna Sarumpaet, yang getol mengecam kebijakan relokasi warga oleh Pemprov DKI Jakarta, mempertanyakan peruntukan Apartemen Kalibata City yang letaknya bersebelah dengan permukiman mereka.
"Saya dan warga minta DPRD, dihentikan dulu deh dongeng-dongeng rusunawa, dongeng bahwa ini memanusiakan. Ini aja Kalcit (Kalibata City), rusunami, sekarang disewa-sewakan tanpa ada surat-surat," kata Ratna di Jalan Rawajati Barat.
Kalibata City yang disubsidi pemerintah disebut telah menjadi tempat komersial dan dihuni warga berpenghasilan tinggi. Warga mengeluhkan mengapa mereka harus dipindah ke Rusun Marunda yang jauh di Jakarta Utara.
"Kami nggak ditawarin di sini!" sahut warga.
"Artinya kalau pemerintah mau mengajak rakyat teratur, mereka teratur dong, mereka sendiri nggak teratur, ini apa maksudnya sekarang jadi komersial," kata Ratna.
Ratna menyebut rusunawa yang disediakan Pemprov DKI Jakarta untuk relokasi warga hanyalah iming-iming yang diheboh-hebohkan. Ia percaya warga kesulitan hidup di rusun.
"Kalau buat saya ini alat penipuan," kata Ratna.
Puluhan warga RT 09 RW 04 Rawajati dan anggota ormas Forum Betawi Rempug, Kamis (25/8/2016) siang, memadati Jalan Rawajati Barat untuk mendeklarasikan penolakan rencana penggusuran permukiman di Rawajati.
Mereka tampak didampingi aktivis Ratna Sarumapet. Dalam acara itu, warga di barisan terdepan menyerukan kata 'merdeka!' berkali-kali di hadapan awak media.
"Kami menolak penggusuran karena pemerintah tidak sesuai dengan kesepakatan kami," kata Imam, salah satu warga saat berorasi.
Rencananya, warga di Rawajati tersebut akan direlokasi ke Rusun Marunda, Jakarta Utara.
Imam mengatakan bahwa Rusun Marunda terlalu jauh dari lokasi mereka tinggal dan dikhawatirkan akan menyusahkan hidup mereka.
Ibu-ibu di barisan depan juga bersahut-sahutan menyampaikan keluhannya.
Mereka khawatir usaha yang mereka jalankan menjadi tidak menentu apabila mereka direlokasi ke Rusun Marunda.
Sebanyak 60 kepala keluarga yang terdiri dari 160-an jiwa ini memang sudah 30 tahun menempati bangunan yang berdiri di sepanjang Apartemen Kalibata City dan berbatasan dengan pagar rel kereta api tersebut.
"Kami langsung digusur tanpa ada kesepakatan, tanpa musyawarah terlebih dahulu. Selama ini hanya lurah yang menemui kami," kata Imam.
Warga menuturkan, belum lama ini ada rapat yang mengundang warga terkait sosialisasi relokasi.
Namun, dalam rapat yang mengundang wali kota dan camat itu, hanya lurah yang hadir memberikan penjelasan.
Warga kesal karena lurah hanya jadi perpanjangan tangan pemerintah dan tidak membela warga. "Lurah baru saja, baru sebulan," kata warga lainnya.
Sementara itu, Ratna Sarumpaet mengatakan bahwa ia dan warga meminta kepada DPRD DKI Jakarta agar menyurati Pemprov DKI Jakarta sehingga penggusuran ditunda.
"Kami habis dari sini akan ke LBH Jakarta supaya dibantu secara hukum. Tapi kita juga akan ke DPRD. Setidaknya mereka bisa menyurati agar pemerintah memperlakukan warga dengan sopan. Tahu-tahu tanggal 1, eh no matter what digusur. Emang dia siapa?" kata Ratna.
No comments:
Post a Comment
http://www.youtube.com/user/dimensinet
http://www.youtube.com/user/MrLovemata
https://twitter.com/LoVeMaTa
Mohon untuk di Jempol dan di SUBSCRIBE yah gan. Terima Kasih