Kyle Schwartz (26) meminta murid-muridnya yang berusia 8-9 tahun di Denver untuk menulis sesuatu hal yang mereka ingin hal itu diketahui oleh guru mereka. Tugas ini dimaksudkan Schwartz untuk mengenal lebih dekat murid-muridnya, selain sebagai tugas kemampuan menulis.
Pesan yang disampaikan oleh murid-murid Schwartz sebenarnya cukup sederhana, namun menyentuh. "Saya tidak punya pensil di rumah untuk mengerjakan PR saya," tulis salah satu murid, seperti dilansir Reuters, Sabtu (18/4/2015).
"Saya ingin bisa kuliah," tulis murid lainnya. Seorang murid lainnya menulis pesan soal dirinya yang sama sekali tidak punya teman untuk bermain saat istirahat sekolah.
Schwartz membagi foto-foto pesan murid-muridnya melalui Twitter. Tidak lama kemudian, foto dan pesan yang sama mulai bermunculan dari sekolah-sekolah lain di seluruh dunia. Aksi Schwartz ini memicu kehebohan di media sosial hingga memunculkan tagar #IWishMyTeacherKnew pada Jumat (17/4) waktu setempat.
Schwartz sudah mengajar selama 3 tahun di Doull Elementary di Denver. Dia mengaku dirinya sudah memberikan tugas seperti ini, setiap tahun. Menurut Schwartz, tujuan dirinya memberikan tugas ini karena ingin menggarisbawahi isu kemiskinan di kota-kota pedalaman AS.
Salah satu pesan yang menarik banyak simpati publik, menurut Schwartz, adalah pesan dari seorang murid perempuan yang merindukan ayahnya yang dideportasi ke Meksiko sejak beberapa tahun lalu.
"Murid itu datang ke sekolah setiap harinya dengan senyum di wajahnya," tutur Scwartz, sembari mengatakan bahwa dirinya tidak akan tahu apa yang dilalui oleh murid itu jika tidak membaca pesan tertulisnya.
Kepada murid-muridnya, Schwartz mengatakan bahwa mereka bisa menulis anonim jika tidak ingin diketahui namanya, namun sebagian besar muridnya senang mencantumkan nama mereka dalam pesan yang dibagi dengan teman-teman sekelasnya.
Satu pesan lainnya yang ditulis seorang murid yang mengaku tak punya teman bermain saat istirahat makan siang, juga memicu banyak komentar dari pengguna media sosial. Pesan tersebut menyedihkan, namun di sisi lain, murid-murid lain langsung menunjukkan dukungan kepada murid yang menulis pesan itu.
"Saat istirahat keesokan harinya, semua murid berkumpul di sekitarnya dan bermain bersama," terangnya.
"Kebanyakan yang kami ajarkan adalah bagaimana menjadi teman yang baik. Kebutuhan emosional murid-murid saya sama pentingnya dengan kebutuhan akademik mereka," tandas Schwartz.
No comments:
Post a Comment
http://www.youtube.com/user/dimensinet
http://www.youtube.com/user/MrLovemata
https://twitter.com/LoVeMaTa
Mohon untuk di Jempol dan di SUBSCRIBE yah gan. Terima Kasih