22 February 2015

Etnis Tionghoa di Harumnya Bulu Tangkis Indonesia

Etnis Tionghoa di Harumnya Bulu Tangkis IndonesiaSusi Susanti dan Alan Budikusuma adalah dua pebulutangkis etnis Tionghoa yang mampu mengharumkan nama Indonesia. (Dok Pribadi)
JakartaCNN Indonesia -- Tak bisa dimungkiri, bulu tangkis memiliki peran besar mengangkat nama Indonesia ke dunia internasional. Terlebih lagi di kala Indonesia berupaya menegaskan eksistensi, mulai dari sikap politik hingga olahraga, setelah menegaskan kemerdekaan.

Bulutangkis menjadi satu mercusuar yang membuat nyala merah putih selalu terang benderang di mata negara-negara lain.

Dalam situasi politik dan ekonomi paling hancur lebur sekalipun, bulutangkis selalu konsisten mengangkat nama Indonesia. Entah itu di tengah gejolak politik di era 1960-an, kebangkitan perkonomian di era 1980-an, ataupun di tengah krisis finansial mini di 2008. Selalu ada bulutangkis yang membuat jutaan rakyat Indonesia menegakkan kepala.

Lalu, sedari awal, ada jejak etnis Tionghoa dalam membangun pondasi kebanggan tersebut.

Juara di Kompetisi Perdana

Kejayaan bulutangkis sendiri dimulai pada 1957 ketika tim bulu tangkis putra Indonesia melawat ke Australia untuk mengikuti babak penyisihan Piala Thomas. Kepergian tim ini pada awalnya sempat diliputi keraguan.

Maklum, ini adalah kali pertama Indonesia akan tampil di kompetisi luar negeri. Sempat ada argumen bahwa tim Indonesia saat itu masihlah hijau dan belumlah pantas mengikuti Piala Thomas.

"Pak Dick Sudirman (Ketua Umum PBSI) sempat tidak setuju karena kemampuan kami belum teruji. Namun Eddy Yusuf terus memompa semangat kami dan berkata bahwa ini adalah kesempatan terbaik untuk unjuk gigi," tutur Tan Joe Hok seorang legenda bulutangkis Indonesia di era 1960-an pada CNN  Indonesia.

Indonesia pun lalu berangkat ke Australia untuk mengikuti babak penyisihan. Ternyata, Tan Joe Hok dkk berhasil pulang dengan membawa tiket ke putaran final.

Kejutan Indonesia ternyata tidak sampai di situ. Di putaran final, Indonesia sukses melaju ke partai puncak dan mengalahkan Malaya (Malaysia) dengan skor 6-3. Indonesia pun menjadi juara di keikutsertaan perdana mereka.

Nama-nama yang memperkuat Indonesia di babak penyisihan dan putaran final saat itu adalah Ferry Sonneville, Eddy Yusuf, Tan Joe Hock, Tan King Gwan, Njoo Kiem Bie. Lie Poo Djian, dan Olich Solihin.

Dari nama-nama tersebut, jelas tergambar bahwa etnis Tionghoa memiliki andil dalam meletakkan pondasi kokoh bulu tangkis tanah air di level dunia. Namun, hal ini ditampik oleh Tan Joe Hok sendiri.

"Tidak. Saat itu tidak ada etnis Tionghoa atau apapun. Yang ada Indonesia," ucap Tan Joe Hok.

"Tim kami benar-benar beragam asal usulnya. Ada yang blasteran seperti Ferry dan Eddy, ada yang Tionghoa, ada juga yang dari Sunda. Namun kami semua satu nama, Indonesia," tuturnya menambahkan.

Mulai Berjaya di Dunia

Setelah ikut berjuang untuk menggaungkan nama Indonesia di pentas bulu tangkis dunia untuk pertama kalinya pada dekade 1950-an, etnis Tionghoa tak pernah absen dalam tiap-tiap kesuksesan Indonesia di berbagai turnamen bulu tangkis.

Tan Joe Hok pula yang berhasil menjadi juara All England pertama kalinya dari Indonesia pada tahun 1958. Dan Tan Joe Hok pula yang membuat Bendera Merah-Putih berkibar di Jakarta pada perhelatan Asian Games 1962.

Atas prestasi-prestasinya itu, tak heran jika Tan Joe Hok pun punya kesempatan bertemu Bung karno yang merupakan orang nomor satu di Indonesia saat itu.

"Satu hal yang paling membuat saya berkesan dari pertemuan dari Bung Karno adalah pesan yang dia sampaikan pada saya," ucap Tan Joe Hok mengenang.

"Orang pintar, insinyur banyak sekali di negeri ini. Tetapi orang seperti kamu ini sedikit dan kamu merupakan orang-orang pilihan," kata Tan Joe Hok.

Setelah Tan Joe Hok dan rekan-rekan lainnya sukses ikut serta dalam membangun pondasi bulu tangkis Indonesia, generasi etnis Tionghoa selanjutnya pun tak mau ketinggalan.

Rudy Hartono jelas tak bisa dilupakan dari sejarah bulu tangkis Indonesia. Ia adalah maestro yang mampu mengoleksi delapan gelar All England dengan tujuh di antaranya dilakukan secara beruntun sejak 1968-1974.

Selain Rudy Hartono, ada pula Liem Swie King di era tersebut. Di bawah keduanya, total hanya ada tiga gelar tunggal putra yang terlepas dalam periode 1968-1981.

Bukan hanya Rudy Hartono dan Liem Swie King, dekade tersebut juga mengenal Christian Hadinata/Ade Chandra dan Tjun Tjun/Johan Wahjudi sebagai perwakilan etnis Tionghoa dalam rentetan prestasi gemilang Indonesia.

Dua ganda putra itu secara total merebut delapan gelar juara dari sembilan tahun penyelenggaraan All England pada 1972-1980.

Ditambah pemain seperti Iie Sumirat dan Muljadi, Indonesia pun dominan di Piala Thomas pada era 1970-an dan selalu jadi juara pada tahun 1973, 1976, dan 1979.

"Kami saat itu memang terbilang luar biasa," tutur Christian Hadinata pada CNN Indonesia.

"Dalam pendapat saya pribadi, saya merasa dititipkan warisan prestasi dunia oleh para senior saya. Sudah tentu saya harus bisa berprestasi menyamai atau melebihi mereka," katanya.

Greysia Polii (kiri) mewakili etnis Tionghoa yang meneruskan kejayaan bulu tangkis Indoensia. (Antara/Saptono)


Kejayaan yang Berlanjut

Era 1980-an dan 1990-an pun tak lepas dari goresan warna para pebulu tangkis Tionghoa. Ada keluarga Arbi, Hastomo Arbi, Eddy Hartono, dan Hariyanto Arbi yang sukses menapak ke puncak prestasi dunia. Belum lagi jika menyebut nama seperti Lius Pongoh, Hariamanto Kartono, Ivana Lie, dan sederet nama lainnya.

Sepasang emas perdana bagi Indonesia di ajang bulu tangkis pun dipersembahkan oleh pebulu tangkis etnis Tionghoa, Alan Budikusuma dan Susi Susanti di Olimpiade Barcelona 1992.

Pun begitu halnya dengan emas Olimpiade 2000 yang dipersembahkan oleh Candra Wijaya/Tony Gunawan atau emas Olimpiade 2008 yang diberikan oleh Hendra Setiawan yang berpasangan dengan Markis Kido.

Periode 1990an hingga awal 2000an juga jadi masa keemasan di ajang beregu. Indonesia sukses memenangi Piala Thomas sebanyak lima kali dan Piala Uber dua kali.

Kolaborasi pemain etnis Tionghoa seperti Mia Audina, Hendrawan, dan pemain yang telah disebut di atas dengan para pemain dari etnis lainnya di Indonesia membuat Indonesia berada di tempat tertinggi pada dekade itu.

"Saya bangga bisa memberikan yang terbaik bagi Indonesia. Dari sekedar mimpi saya berhasil membuatnya jadi kenyataan," ucap Susi.

Pada saat level Indonesia tidak setinggi dekade-dekade sebelumnya, pebulu tangkis etnis Tionghoa tetap menjadi jajaran terdepan untuk mempertahankan reputasi Indonesia.

Saat ini masih ada Liliyana Natsir (yang berpasangan dengan Tontowi Ahmad) dan Hendra Setiawan (berpasangan dengan Mohammad Ahsan) yang menjadi sedikit pemain Indonesia yang bisa diandalkan.

Tontowi/Liliyana adalah juara dunia 2013 dan pemegang titel All England dalam tiga tahun terakhir sedangkan Ahsan/Hendra adalah juara dunia 2013, juara All England 2014, dan pemegang medali emas Asian Games 2014.

Pebulu tangkis Indonesia, Hendra Setiawan, juga mengharumkan nama Indonesia di sektor ganda putra. (CNN Indonesia/Putra Permata Tegar)
Tak Ada Rahasia di Etnis Tionghoa

Rentetan gelar dan dominiasi di dunia bulutangkis membuktikan bahwa etnis Tionghoa sukses menjadi tulang punggung bulu tangkis Indonesia di pentas dunia.

Tentunya banyak yang bertanya faktor yang mungkin menjadi sumber rahasia etnis Tionghoa bisa selalu berada dalam jajaran papan atas pebulu tangkis Indonesia di tingkat dunia.

"Tidak ada," ujar Tan Joe Hok. "Semua sama saja. Semua bisa jadi pebulu tangkis hebat jika mereka mau dan bekerja keras," katanya melanjutkan.

"Namun jika diminta untuk memberikan alasan, hal yang mungkin bisa menjawab adalah karena etnis Tionghoa rata-rata menyukai bulu tangkis dan juga bola basket," ucap Tan Joe Hok.

"Karena hobi dan senang, hal inilah yang kemudian mendorong mereka bekerja keras untuk bisa menjadi pemain top."

Sama halnya dengan Tan Joe Hok, Christian juga melihat tidak ada hal khusus yang menurutnya bisa menjadi keunggulan etnis Tionghoa.

"Tidak ada soal rahasia-rahasian," kata Christian tertawa.

"Untuk zaman saya, semua pemain Indonesia yang naik ke panggung dunia itu pasti hebat karena seleksi di dalam negerinya ketat."

"Karena dana terbatas, mereka yang bisa pergi ke All England adalah yang terbaik dari yang terbaik di negeri ini. Mental sudah terasah di dalam negeri plus tanggung jawab untuk bisa berprestasi lebih besar karena kondisi pendanaan yang minim."

Lebih lanjut, Tan Joe Hok menyoroti sukses generasi pemain etnis Tionghoa di dekade 1950-an disusul dekade 1960-an dan 1970-an punya adil besar dalam kontinuitas eksistensi pebulu tangkis etnis Tionghoa hingga kini.

"Karena sudah ada satu contoh sukses di dekade sebelumnya, kemudian itu jadi contoh bagi yang lain. Mungkin bisa disebut seperti itu," tutur Tan Joe Hok.

"Karena ada etnis Tionghoa yang berhasil main bulu tangkis, bisa jadi generasi muda etnis Tionghoa juga terdorong untuk melakukan itu dan keluar jalur dari karakteristik umum yaitu lekat dengan dunia perdagangan," kata pria yang juga sempat berkuliah di Amerika Serikat ini.

Karena di tiap generasi ada pebulu tangkis etnis Tionghoa yang sukses, maka regenerasi pebulu tangkis Tionghoa di tubuh Tim Bulu Tangkis Indonesia pun tak pernah putus.

Hendra pun mengakui bahwa salah satu hal yang mendorong dirinya untuk percaya diri bisa percaya diri untuk bermimpi menjadi pemain tingkat dunia adalah contoh-contoh dari para seniornya.

"Misalnya Koh Chris (Christian Hadinata). Beliau sukses menunjukkan bahwa bulu tangkis Indonesia bisa berprestasi di level dunia, begitu juga para senior lainnya di bawah Koh Chris," ucap Hendra.

"Hal itu yang menjadikan saya semakin semangat dan termotivasi untuk bisa mengikuti jejak mereka."

Bukan hanya ilmu atau harta benda yang bisa diwariskan dari orang tua ke anak-anaknya, melainkan juga cita-cita. Itulah yang terjadi pada Susi Susanti yang dilimpahi cita-cita menjadi juara dunia dari orang tuanya.

Susi lahir di Tasikmalaya, 11 Februari 44 tahun silam dari pasangan Risad Haditono dan Purwo Banowati. Sebagai seorang anak kecil, Susi adalah anak yang terbilang jenius dalam olahraga.

"Saya itu banyak aktif di olahraga. Selain bulu tangkis, saya juga sering ikut lomba senam, lari, hingga terpilih dalam tim voli sekolahan," tutur Susi mengenang.

Namun, fokus Susi meraih prestasi memang lebih tercurah pada olahraga bulu tangkis.

"Papa adalah penggemar olahraga bulu tangkis. Beliau yang melatih saya di samping rumah dari saya masih kecil," ucap Susi.

Bukan sekedar latihan biasa, Susi sudah bisa melihat bahwa orang tuanya memang menaruh harapan besar pada dirinya.

"Papa dulunya adalah atlet bulu tangkis yang bercita-cita menjadi juara dunia. Namun mimpi Papa harus kandas lantaran beliau mengalami cedera lutut semasa muda," ujar Susi.

Cita-cita yang kandas itulah yang diwariskan kepada Susi. Susi setiap hari dilatih oleh sang ayah, bukan hanya sekedar latihan memukul, melainkan juga hal-hal detil seperti footwork, stamina, dan lain sebagainya.

Setelah bergabung di PB Tunas, Susi mulai menunjukkan prestasi.

"Saat saya bisa jadi juara di pertandingan antar daerah, dari situ Papa sudah semakin yakin saya mampu menjadi pemain papan atas dunia," tutur Susi.

Keyakinan itu makin menemui kenyataan saat Susi diminta bergabung oleh dua klub besar Indonesia, PB Jaya Raya dan PB Djarum. Namun karena pertimbangan memiliki sanak saudara di Jakarta, Susi akhirnya memilih untuk bergabung di Jaya Raya.

Peran Liong Chiu Sia

Selain orang tua, sosok lain yang berpengaruh pada karir Susi adalah pelatihnya di pelatnas PBSI, Liong Chiu Sia.

"Banyak orang hebat yang pernah melatih saya dan tentunya semua berperan penting dan berarti bagi saya. Namun Ibu Chiu Sia adalah yang paling lama bersama saya," ucap Susi.

"Beliau melatih saya sejak saya masih junior di pelatnas hingga saya menjadi pemain senior. Hubungan kami sudah seperti Ibu dan Anak," kata Susi.

Menurut Susi, dirinya selalu bersikap terbuka di hadapan Chiu Sia.

"Termasuk saat saya sedang malas berlatih. Saya katakan terus terang padanya. Setelah itu Ibu Chiu Sia pasti menemukan cara untuk mengembalikan semangat saya seperti mengajak pergi ke pantai dan berbagai hal lainnya," tutur Susi.

Karena itu, ketika Susi sukses menggapai puncak dunia, maka yang tersenyum bukan hanya dirinya. Melainkan pula mereka yang telah mendukungnya.

Seorang Susi Susanti sudah dikagumi sejak ia masih muda, saat masa jaya, hingga kini saat dirinya sudah belasan tahun menggantung raketnya. Banyak yang mengaku angkat topi untuk kehebatan Susi.

Bukan hanya oleh masyarakat awam, namun juga mereka-mereka yang berasal dari dunia bulu tangkis itu sendiri.

Anak Baru yang Mencuri Perhatian

Pertengahan dekade 1980-an, sosok Ivana Lie sudah merupakan salah satu sosok pebulu tangkis senior dengan banyak gelar internasional yang dia peroleh.

Meski saat itu Ivana sudah mulai banting stir jadi pemain ganda, namun ia tetap tak bisa melepaskan perhatiannya dari anak yang baru masuk pelatnas itu. Anak itu bernama Susi Susanti.

"Walaupun baru dan masih muda, bakat dan talenta dia sudah terlihat di saat latihan," ucap Ivana mengenang.

"Susi itu pemain yang fokus, tahu yang akan dia tuju dan yang harus dia lakukan," ujar Ivana menambahkan.

Jika Ivana adalah pemain yang berada satu generasi di atas Susi, maka Sarwendah Kusumawardhani adalah pemain yang berada di generasi yang sama dengan Susi meski secara umur Sarwendah lebih tua empat tahun dibandingkan Susi.

Pada awal 1990-an, Susi dan Sarwendah sukses membawa nama tunggal putri Indonesia ke puncak dunia dan bahkan sempat memanggungkan All Indonesian Final di beberapa turnamen.

Sarwendah adalah peraih medali perunggu Kejuaraan Dunia 1987 dan peraih medali perak 1991. Ia juga pernah memenangi Piala Dunia Bulu tangkis tahun 1990.

Sarwendah lah salah satu pemain yang sering berjibaku dengan Susi baik saat latihan maupun pertandingan.

"Salah satu kehebatan Susi adalah ia mampu menerapkan permainan saat latihan di pertandingan sebenarnya. Banyak pemain yang kesulitan melakukan itu. Biasanya saat latihan bagus tetapi saat pertandingan tak bisa bermain dengan baik," kata Sarwendah.

Menurut Sarwendah, Susi adalah sosok yang bisa menjadi model idola bagi para pemain lainnya saat itu.

"Susi itu selalu fokus pada jalan dan tujuannya. Ia lalu menunjukkan bahwa putri Indonesia juga bisa menang atas para tunggal putri Tiongkok yang biasanya dominan," kata Sarwendah menegaskan.

Dikagumi Generasi Saat Ini

Bukan hanya mendapat pujian dari rekan segenerasi dan generasi di atasnya, nama Susi juga masih harum di jajaran generasi di bawahnya, bahkan setelah dua dekade berlalu seperti saat ini.

Fitriani, 17 tahun, yang merupakan anggota pelatnas PBSI saat ini pun mengaku mengagumi sosok Susi.

"Saya memang tidak pernah nonton langsung kalo Mbak Susi main, tetapi dari kecil saya selalu nonton video pertandingannya," ucap Fitriani berterus terang.

Bagi Fitriani, sosok Susi adalah sosok pemain yang ideal untuk dicontoh.

"Pukulan Mbak Susi akurat dan jarang keluar atau menyangkut di net. Mainnya cepat namun juga rapi karena jarang membuat kesalahan," tutur Fitriani.

"Tentu saja saya berharap bisa seperti Mbak Susi yang menjadi pemain bulu tangkis top dunia. Namun saya masih harus banyak bekerja keras untuk itu," kata Fitriani.

Superior dalam Ketahanan Fisik

Menurut Ivana, satu poin yang harus dilihat generasi saat ini agar bisa menembus level papan atas dunia adalah fisik yang mumpuni.

"Tidak ada perbedaan mencolok dari segi teknik antara pemain generasi saat ini dengan pemain generasi saya dan Susi. Semua hampir sama. Susi pun pukulannya juga sebenarnya tidak begitu mematikan," ucap Ivana.

"Namun dari segi fisik, Susi sangat bagus. Susi siap untuk bermain rubber game dan bergerak mengejar shuttlecock kemanapun," katanya.

Menurut Ivana, fisik mumpuni juga yang membuat Susi memiliki mental bertanding yang bagus.

"Jadi Susi memiliki modal, yaitu fisiknya yang bagus. Jika fisiknya sudah bagus, maka seorang pemain pasti akan lebih percaya diri di lapangan karena dia tahu dia sanggup menjalani pertandingan selama apapun," kata Ivana.

Faktor percaya diri inilah yang juga diakui oleh Sarwendah menjadi pekerjaan rumah para pebulu tangkis Indonesia saat ini.

"Mereka (pebulu tangkis pelatnas saat ini) sudah berlatih keras, menjalani semua program yang disusun dengan baik. Namun mereka harus lebih percaya diri lagi saat tampil di lapangan dan menghadapi lawan-lawan mereka," kata Sarwendah yang kini menjadi pelatih tunggal putri di pelatnas.

No comments:

Post a Comment

http://www.youtube.com/user/dimensinet
http://www.youtube.com/user/MrLovemata
https://twitter.com/LoVeMaTa
Mohon untuk di Jempol dan di SUBSCRIBE yah gan. Terima Kasih