Berdasarkan data perdagangan BEI hingga penutupan perdagangan sesi I dana asing yang masuk lantai bursa terpantau sebanyak Rp 3,028 triliun.
"Investor asing ini sudah antisipasi sejak awal," kata Managing Partner Investa Saran Mandiri, Kiswoyo Adi Joe, kepada detikFinance, Kamis (10/7/2014).
Sampai akhir pekan lalu, investor asing masih melakukan aksi jual dan menarik dana dari lantai bursa. Pada penutupan perdagangan Jumat lalu, dana asing keluar sebanyak Rp 900 miliar.
Namun hal tersebut berubah drastis pada perdagangan Senin pasca debat capres terakhir yang digelar di akhir pekan.
Pada dua perdagangan terakhir, dana asing sudah masuk dalam jumlah banyak. Pada penutupan perdagangan Senin masuk Rp 845,49 miliar, dan Selasa Rp Rp 1,584 triliun.
Total dana asing yang parkir di pasar modal sejak awal tahun sampai pada penutupan perdagangan Selasa kemarin mencapai Rp 46 triliun.
Komentar BI Soal Penguatan Rupiah Pasca Pilpres
Jakarta -Bank Indonesia (BI) menilai berlangsungnya pemilihan presiden (pilpres) dengan aman dan lancar, memberikan efek positif terhadap pasar. Nilai tukar rupiah pun langsung menguat tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka Rp 11.515 per dolar AS. Menguat dibandingkan posisi pada penutupan kemarin di Rp 11.620 per dolar AS.
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), nilai tukar rupiah hari ini berada di posisi Rp 11.549 per dolar AS. Menguat dibandingkan perdagangan hari sebelumnya yaitu Rp 11.695 per dolar AS.
"Penguatan rupiah karena persepsi positif investor terhadap kondisi Indonesia. Khususnya terkait berlangsungnya pilpres yang aman dan lancar sehingga meningkatkan inflow khususnya di SBI dan SBN," kata Direktur Departemen Komunikasi BI Peter Jacobs, dalam pesan singkatnya kepada detikFinance, Kamis (10/7/2014).
BI, kata Peter, tetap akan berada di pasar untuk memonitor setiap pergerakan nilai tukar. Meskipun, faktor politik sudah hampir hilang di pasar. "BI akan selalu siap berada di pasar jika diperlukan," ujarnya.
Sebelumnya, Kepala Riset Valuta Asing Malayan Banking Bhd cabang Singapura, Saktiandi Supaat, menyatakan nilai tukar rupiah akan menguat jika capres nomor urut 2, Joko Widodo, yang akhirnya terpilih sebagai presiden.
"Nilai tukar rupiah bisa menguat menuju Rp 11.300 per dolar AS untuk kemenangan Jokowi," kata Saktiandi dalam risetnya.
Menurutnya, hal ini bisa berbanding terbalik jika capres nomor urut 1 Prabowo Subianto yang memenangkan pilpres. Rupiah diprediksi melemah hingga posisi dolar AS berada di kisaran Rp 12.000.
Pada penutupan perdagangan dua hari lalu, posisi dolar AS berada di Rp 11.630 per dolar AS. Hasil riset Analis Brown Brothers Harriman & Co. di New York, Marc Chandler, menilai pelaku pasar sudah mulai menyadari kemenangan Jokowi dan rupiah pun siap menguat.
(mkl/hds)
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka Rp 11.515 per dolar AS. Menguat dibandingkan posisi pada penutupan kemarin di Rp 11.620 per dolar AS.
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), nilai tukar rupiah hari ini berada di posisi Rp 11.549 per dolar AS. Menguat dibandingkan perdagangan hari sebelumnya yaitu Rp 11.695 per dolar AS.
"Penguatan rupiah karena persepsi positif investor terhadap kondisi Indonesia. Khususnya terkait berlangsungnya pilpres yang aman dan lancar sehingga meningkatkan inflow khususnya di SBI dan SBN," kata Direktur Departemen Komunikasi BI Peter Jacobs, dalam pesan singkatnya kepada detikFinance, Kamis (10/7/2014).
BI, kata Peter, tetap akan berada di pasar untuk memonitor setiap pergerakan nilai tukar. Meskipun, faktor politik sudah hampir hilang di pasar. "BI akan selalu siap berada di pasar jika diperlukan," ujarnya.
Sebelumnya, Kepala Riset Valuta Asing Malayan Banking Bhd cabang Singapura, Saktiandi Supaat, menyatakan nilai tukar rupiah akan menguat jika capres nomor urut 2, Joko Widodo, yang akhirnya terpilih sebagai presiden.
"Nilai tukar rupiah bisa menguat menuju Rp 11.300 per dolar AS untuk kemenangan Jokowi," kata Saktiandi dalam risetnya.
Menurutnya, hal ini bisa berbanding terbalik jika capres nomor urut 1 Prabowo Subianto yang memenangkan pilpres. Rupiah diprediksi melemah hingga posisi dolar AS berada di kisaran Rp 12.000.
Pada penutupan perdagangan dua hari lalu, posisi dolar AS berada di Rp 11.630 per dolar AS. Hasil riset Analis Brown Brothers Harriman & Co. di New York, Marc Chandler, menilai pelaku pasar sudah mulai menyadari kemenangan Jokowi dan rupiah pun siap menguat.
Euforia Jokowi Effect Jilid 2 Bisa Bertahan Sampai Pekan Depan
Jakarta -Euforia efek Jokowi (Jokowi Effect) kembali terasa di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI). Kali ini efek politis tersebut mampu membawa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menembus level 5.100.
Menurut Managing Partner Investa Saran Mandiri, Kiswoyo Adi Joe, euforia Jokowi Effect jilid dua ini bisa bertahan hingga pekan depan.
“Seminggu ini euforia masih akan terasa. Sampai minggu depan masih bisa, setelah itu mulai kempes,” ujarnya kepada detikFinance, Kamis (10/7/2014).
Meski terasa ada euforia, namun ia memperkirakan volume dan nilai transaksi tidak akan terlalu besar. Pasalnya, pelaku pasar sudah melakukan antisipasi dengan masuk ke pasar beberapa hari sebelum pilpres digelar.
“Transaksi belum tentu akan ramai karena pelaku pasar sudah antisipasi. Minggu depan baru mulai profit taking,” katanya.
Secara terpisah, Pelaku Pasar Modal dari Recapital Asset Management Pardomuan Sihombing, mengemukakan hal yang serupa. Menurutnya, euforia Jokowi Effect ini tidak akan bertahan lama.
“Apapun hasil pilpres kemarin, investor harus kembali ke fundamental masing-masing saham (fair value) dalam berinvestasi. Jangan hanya euforia menjadi keputusan investasi,” jelasnya.
Jokowi sempat menggegerkan pasar modal saat mendeklarasikan dirinya siap maju dalam bursa capres pada Jumat 14 Maret 2014 lalu. Saat itu, Jokowi Effect membawa IHSG melonjak hingga hampir 3%.
(ang/dnl)
Menurut Managing Partner Investa Saran Mandiri, Kiswoyo Adi Joe, euforia Jokowi Effect jilid dua ini bisa bertahan hingga pekan depan.
“Seminggu ini euforia masih akan terasa. Sampai minggu depan masih bisa, setelah itu mulai kempes,” ujarnya kepada detikFinance, Kamis (10/7/2014).
Meski terasa ada euforia, namun ia memperkirakan volume dan nilai transaksi tidak akan terlalu besar. Pasalnya, pelaku pasar sudah melakukan antisipasi dengan masuk ke pasar beberapa hari sebelum pilpres digelar.
“Transaksi belum tentu akan ramai karena pelaku pasar sudah antisipasi. Minggu depan baru mulai profit taking,” katanya.
Secara terpisah, Pelaku Pasar Modal dari Recapital Asset Management Pardomuan Sihombing, mengemukakan hal yang serupa. Menurutnya, euforia Jokowi Effect ini tidak akan bertahan lama.
“Apapun hasil pilpres kemarin, investor harus kembali ke fundamental masing-masing saham (fair value) dalam berinvestasi. Jangan hanya euforia menjadi keputusan investasi,” jelasnya.
Jokowi sempat menggegerkan pasar modal saat mendeklarasikan dirinya siap maju dalam bursa capres pada Jumat 14 Maret 2014 lalu. Saat itu, Jokowi Effect membawa IHSG melonjak hingga hampir 3%.
No comments:
Post a Comment
http://www.youtube.com/user/dimensinet
http://www.youtube.com/user/MrLovemata
https://twitter.com/LoVeMaTa
Mohon untuk di Jempol dan di SUBSCRIBE yah gan. Terima Kasih