21 June 2014

Demi Jakarta Bersih, Mereka Rela Bekerja Ekstra

JAKARTA, KOMPAS.com — Jika melintas di jalan protokol Kebon Pala, Jakarta Timur, tepatnya di bawah jembatan rel kereta api arah Salemba, masyarakat dapat menyaksikan aktivitas tiga petugas kebersihan yang bergumul dengan sampah. Demi rasa tanggung jawab terhadap pekerjaannya itu, mereka rela bekerja ekstra.
Berdasarkan penuturan salah satu petugas kebersihan bernama Sarman, ia dan kedua rekannya memungut sampah dari seluruh RW di Kelurahan Kampung Melayu, sejak pukul 04.00. Saat masyarakat belum terjaga, Sarman, Mumuh, dan Sueb sudah membagi tugas untuk berkeliling dari Jalan Otista (Otto Iskandardinata)-Asrama UI Wisma Rini-Kampung Melayu hingga berakhir di Kebon Pala.
Sambil menarik gerobak, mereka menyusuri setiap kelokan sempit permukiman warga. Setelah itu, mereka membawa sampah tersebut ke truk sampah sekitar pukul pukul 08.00.
Sarman, Mumuh, dan Sueb harus menaikkan sisa-sisa kotoran rumah tangga tersebut ke atas truk. Pekerjaan itu pun menghabiskan waktu hingga sore hari. Selanjutnya, truk akan pergi menuju TPS akhir di Bantargebang, Bekasi.
"Kita bertiga aja. Habis keliling, kita stand by terus di sini (TPS), untuk naikkin sampah ke truk pengangkut. Biasanya kita angkut sekali rit ya (sekali perjalanan gerobak). Kalau misalnya ada acara, misalnya nih ulang tahun Jakarta, ya bisa dua kali lipat bolak-balik. Sementara truk cuma bisa nampung maksimal sembilan ton sampah," ujar petugas kebersihan, Sarman.
Sementara itu, Mumuh, warga Pondok Kopi, Jakarta Timur, mengaku bahwa pekerjaan sebagai pengumpul sampah sangat berat. Ia mengatakan bahwa penghasilan yang didapat berbanding terbalik dengan segala risiko yang ditanggungnya. Bahkan, dua bulan belakangan ini, ia mengaku belum menerima gaji.
Ia menyayangkan kelalaian Pemprov dalam memberikan gaji bulanan. Akibatnya, ia mengaku sampai berutang untuk sekadar makan.
"Keluhan kita itu karena gaji dua bulan belum masuk. Katanya dijanjikan masuk hari Jumat, tapi Jumat kapan? Jangan-jangan, Jumat tahun depan," keluh Mumuh sambil tertawa.
Adapun Sarman menimpali, ia tidak bisa membayar biaya sekolah anak. Ayah tiga anak ini memilih untuk tidak menyekolahkan mereka karena keterbatasan uang yang dimiliki. Ia sempat mengatakan, gaji per bulannya Rp 2,4 juta.
"Kalau mengeluh sih buat apa? Saya syukuri ajalah kerjaan begini. Emangnya, gampang cari kerjaan pakai ijazah SD? He-he-he (tertawa)," katanya.
Ia mengaku mencari uang tambahan dengan mengumpulkan botol bekas atau kardus untuk dijual ke penadah.
"Dapetnya ya lumayan buat jajanin anak," papar Sarman saat ditemui sedang istirahat di warung kopi tersebut.

No comments:

Post a Comment

http://www.youtube.com/user/dimensinet
http://www.youtube.com/user/MrLovemata
https://twitter.com/LoVeMaTa
Mohon untuk di Jempol dan di SUBSCRIBE yah gan. Terima Kasih