03 December 2014

Punya Utang Rp 44 Triliun, Saham Tambang Bakrie Anjok 73% Tahun Ini

//images.detik.com/content/2014/12/03/6/a48b7443ef9d25f93f8bed1605_ori_.jpg
Jakarta -Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengalami tekanan yang cukup banyak tahun ini. Sampai-sampai sahamnya anjlok hingga 73% dari awal tahun sampai hari ini.

Banyak sekali isu negatif yang hinggap di perusahaan tambang Grup Bakrie tersebut. Mulai dari kisruh saham dengan Nathaniel Rothschild di Bumi PLC (sekarang Asia Resource Minerals PLC), sampai jumlah utangnya yang fantastis sebesar Rp 44 triliun.

Seperti dikutip dari data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (3/12/2014). harga saham BUMI di akhir 2013 berada di level Rp 300 per lembar. Sahamnya terus berada di tren melemah sampai pada penutupan perdagangan hari ini Rp 81 per lembar.

Itu berarti sahamnya sudah anjlok 73% sejak awal tahun ini. Harga batu bara yang masih lesu juga memberi sentimen negatif.

Hari ini, kabar buruk kembali hinggap di tubuh BUMI. Standard & Poor's (S&P) menurunkan peringkat utang BUMI menjadi default (D) dari sebelumnya selective default (SD).

Lembaga pemeringkat internasional itu memprediksi BUMI itu tidak akan menyelesaikan utang-utangnya setidaknya dalam enam bulan ke depan.

Tiga anak usaha BUMI pekan lalu sudah mendapat moratorium dari Pengadilan Singapura untuk menyelesaikan utang-utangnya. Perseroan juga sudah meminta perlindungan dari kreditur di AS.

Jakarta -Investor dan pelaku pasar modal sudah tidak asing dengan saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Saham perusahaan tambang Grup Bakrie ini pernah menjadi market maker alias penggerak pasar di masa jayanya.

Saking likuidnya, sahamnyaBUMI selalu bergerak dalam rentang yang lebar. Sejak IPO di tahun 1990 lalu di harga 4.500 per lembar, sahamnya sempat naik-turun dan sampai di posisi tertingginya sepanjang masa di Rp 8.750 selembar.

Posisi intraday tertingginya itu diraih pada 10 Juni 2008. Pada penutupan perdagangan hari yang sama saham perusahaan tambang itu ditutup di Rp 8.150 per lembar.

Sebelum krisis ekonomi global akhir 2008 terjadi, saham BUMI memang menjadi primadona di pasar modal dalam negeri, bersama enam perusahaan Bakrie lainnya atau biasa disebut Bakrie 7.

Bakrie 7 selain BUMI antara lain, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP), PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), PT Darma Henwa (DEWA), dan PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL).

Saham-saham ini sempat menguasai pasar modal sebelum krisis ekonomi, namun belakangan ini kinerja keuangan mereka melempem dan berujung pada koreksi tajam. 

Beberapa di antaranya bahkan sudah ada yang jadi saham 'gocap' alias nilainya Rp 50 selembar, posisi harga saham terendah di Bursa Efek Indonesia (BEI)

Pada penutupan perdagangan hari ini, Rabu (3/12/2014), saham BUMI berakhir di level Rp 81 per lembar, anjlok 5,81% dibandingkan posisi kemarin di Rp 86 per lembar.

Jarak antara harga intraday tertinggi di Rp 8.750 dan harga hari ini Rp 81 selembar sangat jauh. Ada koreksi hingga 99% dari titik tertingginya itu.

Tren melemah sudah menempel di saham BUMI sejak krisis 2008. Selain itu kisruh dengan Nathaniel Rothschild di Bumi PLC (sekarang Asia Resource Minerals PLC) dan utangnya yang fantastis sebesar Rp 44 triliun juga jadi sentimen negatif.

Hari ini, kabar buruk kembali hinggap di tubuh BUMI. Standard & Poor's (S&P) menurunkan peringkat utang BUMI menjadi default (D) dari sebelumnyaselective default (SD).

Lembaga pemeringkat internasional itu memprediksi BUMI itu tidak akan menyelesaikan utang-utangnya setidaknya dalam enam bulan ke depan
(ang/dnl) 

No comments:

Post a Comment

http://www.youtube.com/user/dimensinet
http://www.youtube.com/user/MrLovemata
https://twitter.com/LoVeMaTa
Mohon untuk di Jempol dan di SUBSCRIBE yah gan. Terima Kasih