Jakarta -Subakir adalah pegawai PT Kereta Api Indonesia (Persero) yang mengawali karir sebagai petugas paling bawah yakni sebagai petugas parkir atau langsir kereta dan penjaga palang pintu. Kini, Subakir menjadi Direktur Operasi dan Pemasaran PT KA Log, anak usaha KAI.
Selain jenjang karir yang lebih menjanjikan, Subakir menyebut kesejahteraan di lingkungan KAI kini sudah sangat baik. Jauh berbeda dibandingkan dulu saat dia baru masuk di KAI pada 1983.
"Waktu saya jadi Kepala Stasiun, punya sepeda motor masih nyicil. Sekarang level Kepala Stasiun bisa nyicil mobil," kata Subakir saat ngobrol santai bersama detikFinance di Kantor Pusat KA Log, Stasiun Gondangdia, Jakarta Pusat, Selasa (24/3/2015).
Kini Subakir menjabat sebagai Direktur Operasi dan Pemasaran di PT Kereta Api Logistik (KA Log), anak usaha KAI, sejak Agustus 2014. Sebagai seorang direksi, kesejahteraan Subakir melonjak drastis. Secara ekonomi, kehidupannya tercukupi bahkan dengan nada canda menyebut mampu membeli 1 unit mobil lumayan mewah dengan mencicil selama setahun.
"Jabatan seperti saya, besok beli motor, bisa. Kalau mobil, cicil mobil lumayan mewah setahun selesai," ujarnya.
Jika ditarik mundur, kehidupan Subakir relatif prihatin. Saat mulai berkarir di KAI pada 1983, Subakir hidup terbilang pas-pasan bahkan kekurangan.
Untuk menutupi kekurangan penghasilan dan memenuhi kebutuhan dapur, Subakir sempat nyambi menjadi tukang listrik. Kerja sampingan dijalani selama belasan tahun.
Saat menjadi penjaga palang pintu kereta, gaji Subakir adalah Rp 23.000 per bulan sementara biaya hidup di atas itu. Kini, penjaga palang pintu hingga petugas langsir kereta bisa gajian bersih minimal Rp 5 juta per bulan.
"Anak sekarang nggak kredit untuk beli motor. Mereka mampu beli, 4-5 kali gajian terpenuhi. Itu yang pelaksana bahkan sejenis masinis bisa gajian Rp 9 juta," ujarnya.
Selain jenjang karir yang lebih menjanjikan, Subakir menyebut kesejahteraan di lingkungan KAI kini sudah sangat baik. Jauh berbeda dibandingkan dulu saat dia baru masuk di KAI pada 1983.
"Waktu saya jadi Kepala Stasiun, punya sepeda motor masih nyicil. Sekarang level Kepala Stasiun bisa nyicil mobil," kata Subakir saat ngobrol santai bersama detikFinance di Kantor Pusat KA Log, Stasiun Gondangdia, Jakarta Pusat, Selasa (24/3/2015).
Kini Subakir menjabat sebagai Direktur Operasi dan Pemasaran di PT Kereta Api Logistik (KA Log), anak usaha KAI, sejak Agustus 2014. Sebagai seorang direksi, kesejahteraan Subakir melonjak drastis. Secara ekonomi, kehidupannya tercukupi bahkan dengan nada canda menyebut mampu membeli 1 unit mobil lumayan mewah dengan mencicil selama setahun.
"Jabatan seperti saya, besok beli motor, bisa. Kalau mobil, cicil mobil lumayan mewah setahun selesai," ujarnya.
Jika ditarik mundur, kehidupan Subakir relatif prihatin. Saat mulai berkarir di KAI pada 1983, Subakir hidup terbilang pas-pasan bahkan kekurangan.
Untuk menutupi kekurangan penghasilan dan memenuhi kebutuhan dapur, Subakir sempat nyambi menjadi tukang listrik. Kerja sampingan dijalani selama belasan tahun.
Saat menjadi penjaga palang pintu kereta, gaji Subakir adalah Rp 23.000 per bulan sementara biaya hidup di atas itu. Kini, penjaga palang pintu hingga petugas langsir kereta bisa gajian bersih minimal Rp 5 juta per bulan.
"Anak sekarang nggak kredit untuk beli motor. Mereka mampu beli, 4-5 kali gajian terpenuhi. Itu yang pelaksana bahkan sejenis masinis bisa gajian Rp 9 juta," ujarnya.
Subakir, mantan petugas langsir dan penjaga palang pintu kereta api, tidak menyangka bisa menduduki posisi Direktur Operasi dan Pemasaran di PT Kereta Api Logistik (KA Log), anak usaha PT Kereta Api Indonesia (Persero). Berkarir di KAI mulai dari level pelaksana atau jenjang paling bawah, Subakir hanya memegang ijazah Sekolah Menengah Atas (SMA).
Oleh karena itu, ketika diminta mengikuti tes seleksi direksi KA Log, Subakir sempat merasa kurang percaya diri alias minder. Ia berpikir, apa mungkin seorang lulusan SMA menjadi direktur?
"Saat saya ikut fit and proper test, ada rasa minder. Saya sama sekali belum pernah duduk di perguruan tinggi," kata Subakir saat ngobrol santai bersamadetikFinance di Kantor Pusat KA Log, Stasiun Gondangdia, Jakarta Pusat, Selasa (24/3/2015).
Setelah mengikuti seleksi, Subakir dinilai layak karena memiliki skor tertinggi. Akhirnya, Direktur Utama KAI saat itu, Ignasius Jonan, melantik Subakir sebagai direktur KA Log pada Agustus 2014.
"Setelah saya VP Pengedali Kru KA selama 1,5 bulan, kemudian saya dimutasi jadi Dir Ops KA Log bulan Agustus 2014, saat periode terakhir Pak Jonan," jelasnya.
Subakir memegang amanah yang diberikan dengan baik. Ia bekerja tanpa mengenal libur. Subakir memilih tetap bekerja meski memasuki akhir pekan atau tanggal merah.
"Saya sudah pas-pasan di SMA, saya karir seperti ini maka sudah bersyukur. Saya lulusan SMA kemudian jadi Dir Ops, masak turun semangatnya? Kalau teman-teman punya speed 40, paling tidak saya punya 60," jelasnya.
Keluarga pun mendukung profesi Subakir yang bergelut di bidang layanan transportasi kereta. Keluarga Subakir berdomisili di Surabaya, Jawa Timur. Ayah 1 anak ini hanya pulang ke Kota Pahlawan sekitar 1 bulan sekali.
"Saya punya keluarga. Karena saya memiliki tugas yang diemban, kebetulan saya punya kewenangan mengunjungi Surabaya. Meski ada kewenangan ke Surabaya, bukan berarti saya terus bisa kunjungi rumah. Saya pulang ke rumah 1-1,5 bulan sekali," sebutnya.
Oleh karena itu, ketika diminta mengikuti tes seleksi direksi KA Log, Subakir sempat merasa kurang percaya diri alias minder. Ia berpikir, apa mungkin seorang lulusan SMA menjadi direktur?
"Saat saya ikut fit and proper test, ada rasa minder. Saya sama sekali belum pernah duduk di perguruan tinggi," kata Subakir saat ngobrol santai bersamadetikFinance di Kantor Pusat KA Log, Stasiun Gondangdia, Jakarta Pusat, Selasa (24/3/2015).
Setelah mengikuti seleksi, Subakir dinilai layak karena memiliki skor tertinggi. Akhirnya, Direktur Utama KAI saat itu, Ignasius Jonan, melantik Subakir sebagai direktur KA Log pada Agustus 2014.
"Setelah saya VP Pengedali Kru KA selama 1,5 bulan, kemudian saya dimutasi jadi Dir Ops KA Log bulan Agustus 2014, saat periode terakhir Pak Jonan," jelasnya.
Subakir memegang amanah yang diberikan dengan baik. Ia bekerja tanpa mengenal libur. Subakir memilih tetap bekerja meski memasuki akhir pekan atau tanggal merah.
"Saya sudah pas-pasan di SMA, saya karir seperti ini maka sudah bersyukur. Saya lulusan SMA kemudian jadi Dir Ops, masak turun semangatnya? Kalau teman-teman punya speed 40, paling tidak saya punya 60," jelasnya.
Keluarga pun mendukung profesi Subakir yang bergelut di bidang layanan transportasi kereta. Keluarga Subakir berdomisili di Surabaya, Jawa Timur. Ayah 1 anak ini hanya pulang ke Kota Pahlawan sekitar 1 bulan sekali.
"Saya punya keluarga. Karena saya memiliki tugas yang diemban, kebetulan saya punya kewenangan mengunjungi Surabaya. Meski ada kewenangan ke Surabaya, bukan berarti saya terus bisa kunjungi rumah. Saya pulang ke rumah 1-1,5 bulan sekali," sebutnya.
No comments:
Post a Comment
http://www.youtube.com/user/dimensinet
http://www.youtube.com/user/MrLovemata
https://twitter.com/LoVeMaTa
Mohon untuk di Jempol dan di SUBSCRIBE yah gan. Terima Kasih