Jakarta -Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti berencana membuat aturan pelarangan penangkapan ikan Napoleon Wrasse (Cheilinus undulatus). Ikan yang tergolong ikan karang berukuran besar dan anggota dari familia Labridae itu dianggap salah satu spesies ikan yang mau punah.
"Ikan Napoleon dalam daftar terancam. Jadi konsennya ibu (Menteri Susi) itu dalam hal lingkungan dan dari sisi kelestarian," ungkap Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP), Kementerian Kelautan dan Perikanan Saut P Hutagalung kepada detikFinance, Jumat (28/11/2014).
Hingga saat ini, pihak KKP masih melakukan pendataan terhadap populasi ikan Napoleon di lautan Indonesia. KKP telah membentuk tim verifikasi untuk mendata berapa jumlah populasi ikan Napoleon saat ini.
"Nah sekarang kita identifikasi, karena tidak semua Indonesia setoknya terancam, sekarang ada tim kita sedang memverifikasi lokasi mana yang masih potensi bagus," imbuhnya.
KKP memperkirakan jumlah populasi ikan Napoleon di Lautan Indonesia hanya tersisa 65.000 ekor. Tetapi data ini bisa saja berubah tergantung perhitungan terbaru tim verifikasi yang telah dibentuk.
"Tetapi sekarang ini mau Ibunya setop dulu tetapi aturannya belum keluar. Semoga nanti dalam waktu dekat 2-3 minggu kita dapat gambaran datanya," jelasnya.
Sebelumnya, Susi kembali mengungkapkan rasa kekesalannya saat memimpin rapat Dewan Kelautan Indonesia (Dekin). Susi kesal banyak ikan Napoleon yang hidup di laut Indonesia dicuri oleh negara Hongkong dengan modus praktik transhipment di tengah laut
"Ikan Napoleon dalam daftar terancam. Jadi konsennya ibu (Menteri Susi) itu dalam hal lingkungan dan dari sisi kelestarian," ungkap Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP), Kementerian Kelautan dan Perikanan Saut P Hutagalung kepada detikFinance, Jumat (28/11/2014).
Hingga saat ini, pihak KKP masih melakukan pendataan terhadap populasi ikan Napoleon di lautan Indonesia. KKP telah membentuk tim verifikasi untuk mendata berapa jumlah populasi ikan Napoleon saat ini.
"Nah sekarang kita identifikasi, karena tidak semua Indonesia setoknya terancam, sekarang ada tim kita sedang memverifikasi lokasi mana yang masih potensi bagus," imbuhnya.
KKP memperkirakan jumlah populasi ikan Napoleon di Lautan Indonesia hanya tersisa 65.000 ekor. Tetapi data ini bisa saja berubah tergantung perhitungan terbaru tim verifikasi yang telah dibentuk.
"Tetapi sekarang ini mau Ibunya setop dulu tetapi aturannya belum keluar. Semoga nanti dalam waktu dekat 2-3 minggu kita dapat gambaran datanya," jelasnya.
Sebelumnya, Susi kembali mengungkapkan rasa kekesalannya saat memimpin rapat Dewan Kelautan Indonesia (Dekin). Susi kesal banyak ikan Napoleon yang hidup di laut Indonesia dicuri oleh negara Hongkong dengan modus praktik transhipment di tengah laut
"Ikan Napoleon ini dibilang budidaya dia hanya dibesarkan saja. Ikan Napoleon itu didapat bukan dengan pancing tetapi diracun. Dengan cara itu ikan Napoleon bisa keluar dari mulut gua. Bisa saja ditombak tetapi ikan pasti mati sedangkan negara Hongkong maunya hidup," papar Susi di Gedung Mina Bahari I, Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat, kemarin.
Susi menambahkan setelah ikan diracun dan diambil hidup-hidup oleh nelayan Indonesia, ikan kemudian dikumpulkan dan dijual ke negara Hongkong. Tidak perlu nelayan pergi jauh hingga ke negara Hongkong karena kapal-kapal berbendera Hong Kong menjemput untuk mengambil ikan Napoleon setiap 2 minggu sekali.
Susi memprediksi nilai transaksi penjualan ikan Napoleon per tahun secara ilegal mencapai US$ 50 juta. Namun kerusakan laut yang diderita Indonesia jauh lebih besar bisa mencapai miliaran dolar.
"Kerusakan tentu miliaran, nelayan hanya dapat Rp 400.000/ekor. Akibat racun itu, karang jadi berwarna putih (rusak dan mati) sampai 5 tahun kemudian. Setiap 2 minggu sekali ada 20 kapal Hongkong berbendera Hong Kong menjemput (mengambil ikan Napoleon) di Pulau kecil," paparnya.
Susi menambahkan setelah ikan diracun dan diambil hidup-hidup oleh nelayan Indonesia, ikan kemudian dikumpulkan dan dijual ke negara Hongkong. Tidak perlu nelayan pergi jauh hingga ke negara Hongkong karena kapal-kapal berbendera Hong Kong menjemput untuk mengambil ikan Napoleon setiap 2 minggu sekali.
Susi memprediksi nilai transaksi penjualan ikan Napoleon per tahun secara ilegal mencapai US$ 50 juta. Namun kerusakan laut yang diderita Indonesia jauh lebih besar bisa mencapai miliaran dolar.
"Kerusakan tentu miliaran, nelayan hanya dapat Rp 400.000/ekor. Akibat racun itu, karang jadi berwarna putih (rusak dan mati) sampai 5 tahun kemudian. Setiap 2 minggu sekali ada 20 kapal Hongkong berbendera Hong Kong menjemput (mengambil ikan Napoleon) di Pulau kecil," paparnya.
Jakarta -Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat, populasi ikan Napoleon Wrasse (Cheilinus undulatus) di Lautan Indonesia hanya tersisa 65.000 ekor. Semakin sedikitnya populasi ikan Napoleon disebabkan jenis ikan ini sulit dibudidaya atau diternak oleh para nelayan.
"Sulit memang dibudidaya," kata Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP), Kementerian Kelautan dan Perikanan Saut P Hutagalung kepada detikFinance, Jumat (28/11/2014).
Tidak hanya itu, ikan Napoleon tergolong ikan yang lambat untuk matang seksual. Usianya yang panjang membuat kemampuan recovery untuk menggantikan ikan yang mati sangat lambat.
Kemudian meskipun betina ikan Napoleon bertelur tiap tahun tingkat kelulusan hidup (survival rate) dari telur yang dihasilkan hanya 2-3%. Artinya, setiap 100 ekor anak Napoleon yang berhasil menetas, hanya 2-3 ekor yang mampu bertahan hidup, selebihnya mati.
"Alam ini semua alam jadi belum bisa dibudidaya. Makanya tadi saya katakan hitung dulu berapa potensi yang ada. Kalau nggak ini hilang," papar Saut.
Pihak KKP segera akan melakukan pendataan ulang terkait jumlah populasi ikan Napoleon saat ini. Setelah didata dan diverifikasi akan menjadi rujukan bagi Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti membuat kebijakan pelarangan penangkapan ikan Napoleon.
"Informasi dari lapangan sementara 65.000 ekor (jumlah populasi yang tersisa). Nanti akan diverifikasi," jelasnya.
"Sulit memang dibudidaya," kata Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP), Kementerian Kelautan dan Perikanan Saut P Hutagalung kepada detikFinance, Jumat (28/11/2014).
Tidak hanya itu, ikan Napoleon tergolong ikan yang lambat untuk matang seksual. Usianya yang panjang membuat kemampuan recovery untuk menggantikan ikan yang mati sangat lambat.
Kemudian meskipun betina ikan Napoleon bertelur tiap tahun tingkat kelulusan hidup (survival rate) dari telur yang dihasilkan hanya 2-3%. Artinya, setiap 100 ekor anak Napoleon yang berhasil menetas, hanya 2-3 ekor yang mampu bertahan hidup, selebihnya mati.
"Alam ini semua alam jadi belum bisa dibudidaya. Makanya tadi saya katakan hitung dulu berapa potensi yang ada. Kalau nggak ini hilang," papar Saut.
Pihak KKP segera akan melakukan pendataan ulang terkait jumlah populasi ikan Napoleon saat ini. Setelah didata dan diverifikasi akan menjadi rujukan bagi Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti membuat kebijakan pelarangan penangkapan ikan Napoleon.
"Informasi dari lapangan sementara 65.000 ekor (jumlah populasi yang tersisa). Nanti akan diverifikasi," jelasnya.
No comments:
Post a Comment
http://www.youtube.com/user/dimensinet
http://www.youtube.com/user/MrLovemata
https://twitter.com/LoVeMaTa
Mohon untuk di Jempol dan di SUBSCRIBE yah gan. Terima Kasih