Para pelajar menggelar unjuk rasa di depan kantor pusat parlemen Hongkong, Jumat (26/9/2014), menentang penghapusan pemilu langsung untuk memilih penguasa wilayah otonomi khusus China ini.HONGKONG, KOMPAS.com - Lebih dari 100 pelajar yang menyatakan diri sebagai pelajar prodemokrasi "menyerbu" kantor pemerintahan dan terlibat baku hantam dengan polisi, Jumat (26/9/2014). Mereka menentang keputusan Pemerintah Beijing yang meniadakan pemilihan langsung untuk penguasa wilayah Hongkong pada 2017.
Polisi menyemprotkan cairan merica kepada para siswa untuk menghalangi mereka menuju gerbang dan memanjat pagar tinggi yang melindungi gedung pemerintahan. Pemimpin demonstrasi Joshua Wong diseret dan ditendang polisi hingga lengannya berdarah.
Teriakan Wong menyatu dengan teriakan demonstran lain yang berusaha menariknya dari cekalan polisi. "Masa depan Hongkong milikmu, kamu, dan kamu," teriak dia, menyemangati para pelajar, sebelum dia dibawa pergi oleh polisi.
"Saya ingin berkata ke CY Leung dan Xi Jinping bahwa misi berjuang untuk hak pilih universal bukan hanya tanggung jawab anak muda, melainkan setiap orang," lanjut Wong, merujuk pada pemimpin Hongkong dan Tiongkok sekarang.
Para demonstran saling melingkarkan lengan sambil menyanyikan lagu perjuangan ketika polisi mengelilingi mereka dengan barikade besi. Hingga Sabtu (27/9/2014) dini hari, ada sekitar seribu pelajar berkumpul berada di luar kantor pusat pemerintahan meneriakkan "Free the people", dengan 100 demonstran ada di dalam pagar kantor itu.
Sedikitnya empat orang ditandu karena terluka dalam aksi protes tersebut. Aksi ini merupakan protes jalanan terbesar sejak keputusan Beijing terkait pemilihan penguasa Hongkong diumumkan pada Agustus 2014. "Kami masih menuntut hak pilih universal," kata Ketua Federasi Pelajar Hongkong, Alex Chow.
Lebih dari seribu siswa bergabung dan mendukung para mahasiswa menuntut demokrasi penuh untuk Hongkong, mengakhiri kampanye panjang pekan ini, termasuk mogok sekolah dan menampilkan arak-arakan yang menampilkan rupa pemimpin Hongkong sebagai setan.
Pada Jumat (26/9/2014) pagi, ratusan pelajar yang memakai seragam sekolah berkumpul di taman dekat kantor pemerintahan. Mereka menggunakan pita kuning dan stiker yang bertuliskan "Hancurkan Kediktatoran Partai Komunis Tiongkok".
"Kami harus beraksi sekarang juga. Terlalu banyak orang di Hongkong yang cuek dengan politik, tetapi itu tak benar. Politik ini akan begitu mempengaruhi prospek masa depan kami," kata Louis Yeung (17), salah satu pelajar yang terlibat aksi.
Sementara itu, sekitar 200 pelajar menginap di luar rumah pemimpin Hongkong Leung Chun-ying sejak Kamis (25/9/2014). Aksi tersebut mereka lakukan setelah Leung menolak bertemu dengan para siswa untuk berdialog mengenai masa depan demokrasi di wilayah adminsitrasi khusus tersebut.
HONGKONG, KOMPAS.com - Remaja itu baru berusia 17 tahun. Namun, dia telah memimpin ribuan pelajar yang sekarang sedang berunjuk rasa soal demokrasi di Hongkong.
Remaja itu adalah Joshua Wong. Dia memimpin demonstrasi menentang langkah Beijing meniadakan pemilu langsung untuk memilih penguasa wilayah otonomi khusus Hongkong pada 2017.
"Masa depan Hongkong adalah milikmu, kamu, dan kamu," teriak remaja yang memakai kaca mata berbingkai warna gelap dan berambut potongan mangkok tersebut sebelum polisi menyeretnya, Jumat (26/9/2014).
Aksi Wong membuatnya dibekuk polisi, yang menyeret dan menendang Wong di teman para pelajar. Darah terlihat mengalir dari lengan Wong. Para pengunjuk rasa pun menggerung dan berupaya menyelamatkan Wong.
Unjuk rasa pelajar ini bukan kali pertama bagi Wong berurusan dengan polisi, gerakan pelajar, dan kebijakan. Dia juga sudah pernah mendapatkan kemenangan besar menentang kekuasaan Beijing, negara yang saat ini berkuasa atas Hongkong setelah Inggris mengembalikan wilayah itu ke Beijing pada 1997.
Wong masih berusia 15 tahun, ketika dia bisa memaksa pemerintah otonom Hongkong mengurungkan rencana membangun skema pendidikan nasional pro-Tiongkok. Saat itu, dia memobilisasi 120.000 pengunjuk rasa.
"Saya rasa dia memahami realita politik Hongkong, tetapi dia juga memahami psikologi gerakan atau kelompok protes," kata Matthew Torne, pembuat film asal Inggris yang mengabadikan aksi Wong dalam film dokumenter tentang protes edukasi nasional di tanah koloni bekas jajahan Inggris tersebut.
Wong menghiasi halaman depan surat kabar nasional setempat selama beberapa hari, meski tak semuanya menyanjung tindakannya pada saat itu. Sebuah surat kabar pro-Beijing Wen Wei Po, misalnya, memberitakan Wong sehalaman penuh tetapi sekaligus menderetkan tuduhan untuk remaja ini.
Koran itu menuduh Wong punya hubungan dekat dengan Amerika Serikat dan CIA. Wong dituduh pula telah mempengaruhi sekolah-sekolah di Hongkong. Semua tuduhan itu sudah disangkal.
Kemampuan Wong dan para pelajar Hongkong menggerakkan ribuan orang untuk berjuang demi demokrasi telah meningkatkan dukungan terhadap mereka. Mereka telah mengendalikan gerakan pembangkangan sipil kota itu.
Para pelajar ini berencana menggelar aksi yang lebih besar pada 1 Oktober 2014, dengan berencana menduduki pusat pemerintahan. Mereka ingin aksi tersebut menjadi satu dari gerakan protes paling mengganggu abad ini yang terjadi di daerah pusat keuangan Asia.
No comments:
Post a Comment
http://www.youtube.com/user/dimensinet
http://www.youtube.com/user/MrLovemata
https://twitter.com/LoVeMaTa
Mohon untuk di Jempol dan di SUBSCRIBE yah gan. Terima Kasih